close

Headline

Headline

HeadlineTulisan

Djarot dan Politik Kemanusiaan

Djarot

“Apa yang membuat pak Djarot yakin bahwa pak Ahok itu orang baik ?” Tanya Rosi.

“Hatinya…ya hatinya baik dan bersih, dia tak bisa melihat orang menderita.” Jawab Djarot pelan namun penuh keyakinan. Lalu sorot mata Ahok nampak terharu. Mereka bukan hanya pasangan dwitunggal kepemimpinan, tapi juga persahabatan yang menggetarkan.

(Itulah serpihan kisah indah mengharukan antara Djarot dan Ahok dalam acara Rosi Kompas TV).

Konon..

Dulu di awal kisah, ketika beberapa pihak membujuk Djarot untuk maju sebagai Cagub, berikut jawaban Djarot yang mengharukan :

“Saya jawab gini. Saya bukan orang ambisius. Kalau dulu Pak Ahok berjuang mati-matian menghadirkan saya, ketika tidak ada perbedaan prinsip, saya selalu susah senang bersama Pak Ahok untuk membumikan Indonesia,” sambungnya.

Djarot lebih dari seorang Wagub untuk Ahok. Hal ini terbukti ketika ia menjadi “Wagub” yang setia kepada Ahok. Dia bahkan tak ingin nama besar. Ia biarkan kredit dan apresiasi bagi sang gubernur. Bagi Ahok, Djarot bukan hanya pasangan pemimpin – tapi bahkan sahabat.

Ada kalimat bijak indah : “Bahkan ketika dunia ingin menjatuhkanmu, seorang sahabat akan tetap datang dan hadir di sampingmu.”

Dan itulah yang dialami Ahok dalam jatuh bangun perjalanannya yang berdarah-darah, Djarot selalu hadir di sampingnya. Bahkan ketika Djarot berkampanye seorang diri dan ditolak habis di beberapa tempat, diusir dan dimaki – ia menghadapinya tanpa gentar sekaligus penuh kesabaran. Dia tetap membela sahabatnya, Ahok. Ia tak pernah menggunting dalam lipatan. Ia setia.

Kini semuanya telah usai. Tapi Djarot telah meninggalkan sebuah pelajaran ‘politik kemanusiaan’ yang sangat berharga bagi bangsa ini. Persaudaraan dan persahabatan itu tidak bisa disekat oleh perbedaan agama maupun warna kulit. Ahok Cina dan Kristen, Djarot Islam dan Jawa. Djarot menempatkan kepentingan rakyat (DKI dan bangsa) di atas perbedaan primordial itu. Dan di atas segalanya, Djarot menerima Ahok sebagai sesama manusia.

Djarot mengajarkan pada kita semua bahwa puncak agama itu adalah cinta. Bahwa bila kita mencintai Tuhan maka kita harus mencintai ciptaan-Nya. Dan itu semua ia tunjukkan bagaimana ia membela, menjaga dan menyayangi Ahok – sahabatnya.

Di tangan Djarot, sebuah politik menjadi manusiawi. Bangsa ini beruntung memiliki dua putra terbaik bangsa ini. Djarot, namamu juga terukir indah dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Nama yang membikin sejuk hati rakyat.

-HT-

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Terima Kasih Ahok

IMG-20170419-WA0037

Selamat untuk Mas Anies dan Bang Sandi atas kemenangannya.

I sincerely wish you both the best di dalam mengemban tugas baru, demi maju nya Ibu Kota Negara.

Terima kasih Ahok, untuk 5 tahun yang singkat tapi sangat bermanfaat: 2 tahun wakil gubernur dan 3 tahun gubernur.

Terima kasih untuk berbagai infrastruktur baru yang penting kayak flyover Kampung Melayu-Tanah Abang, Flyover Tendean-Cileduk, pembangunan Simpang Semanggi, dan yang paling penting, MRT.

Terima kasih untuk puluhan ruang hijau terbuka seperti taman Jagakarsa, taman Sunter, taman Zodia, taman Tanjung 2, taman PPA, dan yang paling drastis taman waduk Ria Rio.

Terima kasih udah nutup tempat-tempat prostitusi, transaksi narkoba, perdagangan manusia kayak Stadium, Kalijodo dan Diskotik Milles, tapi nggak nutup Alexis (pesan titipan dari temen).

Terima kasih udah bikin Jakarta jauh berkurang banjirnya, penghuni-penghuni ilegal di batang kali dikasih rumah tinggal susun yang manusiawi, dan rakyat menengah kebawah dibayarin semua dari sakit sampe sekolah dan di subsidi untuk kuliah.

Terima kasih untuk team oranye nya yang ngeruk kali-kali, melancarkan kembali gorong-gorong, bersihin sampah yang bergunung-gunung. Terima kasih untuk team warna-warni lainnya yang mengerjakan banyak fungsi penting masyarakat.

Terima kasih udah memajukan Masjid Jakarta Islamic Centre untuk etalase keilmuan keislaman dan wisata religi. Terima kasih udah membangun Masjid Fatahilah di Balai Kota, Masjid al-Hijrah di rusun Marunda, Masjid Al-Muhajirin di Rusun Pesakih dan yang paling penting Masjid Agung Jakarta seluas 2 hektar di Daan Mogot yang umat muslim Jakarta bisa banggakan.

Terima kasih udah memberi bantuan 15-75 juta rupiah untuk 118 musholla, mesjid dan Majelis Taklim (SK GUB Nomor 2589 Tahun 2015). Dan untuk 125 lagi mendapat bantuan 15-100 juta pada tahun depannya (SK GUB Nomor 308 Tahun 2016).

Terima kasih udah mengumrohkan 30 orang penjaga Masjid/Mushola (Marbot) dan Makam (kuncen) pada tahun 2014, 40 orang pada tahun 2015, 50 orang pada tahun 2016 dan 100 orang pada tahun ini.

And last but not least, terima kasih udah beresin birokrasi yang ribet, udah meluruskan yang bengkok-bengkok dan mengurangkan drastis benalu-benalu anggaran.

Semoga Semua diteruskan Gubernur yang Baru.

Al Fatihah.

Maman Imanulhaq

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Stigma

IMG-20170420-WA0001

Ahok kalah; pilkada DKI 2017 sudah menentukan itu. Segera, apa yang terjadi dengan hiruk pikuk selama ini, akan jadi sejarah.

Banyak yang lega — karena Anies menang ataupun karena kita akhirnya melampaui kebencian yang meracuni udara kampanye, suasana yang meretakkan banyak pertemanan.

Tapi saya harap satu hal tak dilupakan.

Ahok maju ke dalam arena dengan belenggu di tubuhnya: belenggu sebagai “penista agama”. Ia bisa bergerak dan bisa bicara, tapi ia tak sepenuhnya bebas. Prestasinya sebagai kepala daerah, yang diakui sebagian besar warga — yang membuat ia sebenarnya tak tertandingi — nyaris tak tampak dan terdengar lagi.

Dalam sejarah politik Indonesia, mungkin apa yang dicapkan pada Ahok merupakan teknik membuat stigma yang paling berhasil.

Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi “kebenaran”. Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian.

Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang-undang “penistaan agama” yang diproduksi rezim Orde Baru — sebuah undang-undang yang batas pelanggarannya tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu.

Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal: (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan.

Mengakui adanya ketidak-adilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok — yang tak bisa diubah — adalah sebuah ketidak-jujuran.

Ahok kalah, ia bahkan masih bisa di jatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu. Jangan-jangan kebenaran juga kalah — di masa yang merayakan “pasca-kebenaran” kini.

 

Goenawan Mohamad

Selengkapnya
HeadlineTulisan

#TerimakasihAhok

IMG-20170419-WA0047

Hok, hari ini adalah kesedihan. Hujan besar sekali di Jakarta, langit seperti kuburan mengandung rasa sunyi. Semua pendukungmu sedih, dan dadanya penuh serta bertanya “Bagaimana Jakarta tanpamu…”

Semua jelas akan kangen, suaramu yang nyerocos itu, mengeluarkan angka angka penuh logika, nyerocos soal “Pemahaman Nenek Lo…!!” bicara kasar pada kaum pencoleng dan kadang elo nangis depan rakyat, saat rakyat yang tak punya itu mengadu soal kehidupan, elo malah nangis Hok…

Rakyat mangkin paham atas pendidikan politik yang kamu lakukan, inget nggak soal Lurah Susan, kamu berdiri tegas atas konstitusi, kamu menguliahi publik soal dasar dasar negara sampai Mendagri Gamawan seperti pelawak tak lucu di hadapan rakyat, dan kamu dengan cerdas memaknai negeri ini…

Hok, lu itu dinamika Jakarta, lu sekarang bagian dari sejarah besar Jakarta, mulai dari Chairil Anwar, Mayor Syafe’i, Ali Sadikin sampai dengan Benyamin S, lu sekarang bagian dari legenda itu. Sedih, Hok lu nggak lagi jabat Gubernur, tapi mungkin ini semua akan dijabarkan dalam alam rahasia rahasia Tuhan untuk Republik…

Rakyat jelas kehilangan kuliah kuliah politik elu di selasar Balaikota DKI, lu bicara sama rakyat, lu jelasin semua permasalahan mengatur pemerintahan, lu ketawa ketawa, lu marahin wartawan, lu ngamuk ngamuk tapi lucu, rakyat seneng Hok…

Rakyat seneng ama diri lo, lu sudah menciptakan “panggung politik dimana tubuh lo sendiri adalah panggung itu”… memang kadang lu naif cari pendukung, lu percayaan sama orang orang disekitar lu yang kemudian bloking lu nggak liat pandangan yang lebih luas, tapi sudah jadi takdir “semua manusia punya kekurangan”… lu nggak pinter maen politik, lu orangnya zakelijk tapi itulah elu, dan jutaan orang seneng dengan gaya elu kayak gitu…

Dalam sejarah ada satu kata kunci Hok, “Waktu yang akan membuka semuanya”. Apakah yang dituduhkan ke elu itu kita akan liat itu cuman maenan politik, bukan beneran, karena orang kayak elu mana bisa debat agama…

Setiap orang besar datang dan pergi dalam kenangan rakyat, pasti ada ingatan yang ditinggalkan. Ketika semua orang melihat Bis Trans Jakarta yang keren keren, pasti bilang “Tuh Bis Ahok”, ketika setiap orang melihat Kartu Jakarta Sehat-nya yang banyak menolong, “Tuh Kartu Ahok”, ketika orang dateng ke Kalijodo dan menikmati semilir angin sore lalu bergumam pelan “gue di taman Ahok…”

Pekerjaan elu Hok yang ngingetin banyak orang, dan mungkin sebagian nangis inget wajah lu yang lugu itu, wajah seperti pedagang yang habis habisan nawarin barang di kelontong yang padat di kampung pecinan.

Biar gimanapun, rakyat masih cinta elu Hok, lambaian tangan dari jutaan rakyat Indonesia ke elu, sebuah lambaian perpisahan tapi bukan berarti elu berlalu begitu saja, elu akan ada di setiap tempat hati orang Republik, ingetan tentang elu di dalam jaman ke jaman akan dikenang banyak generasi…

Hok, apa ada yang lebih sedih dari “perpisahan”, dulu orang orang kerap menyebut “Perpisahan adalah kematian kematian kecil” dalam tiap hubungan manusia, tapi perpisahan juga punya makna lain dalam kehidupan sehingga kita bisa mengerti bagaimana “rahasia rahasia Tuhan bekerja”…

Don’t cry for me Jakarta,
The truth is I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance…

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Ahok: Tetap Bekerja yang Terbaik

IMG_20170420_004653_802

JAKARTA-Gubernur Petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menerima hasil perhitungan cepat (quick count) Pilkada DKI Jakarta 20107. Karena itu, dia meminta para pendukungnya agar tidak usah kecewa dan sedih. “Kekuasaan adalah pemberian Tuhan. Kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan juga yang ambil. Jadi jangan sedih dan kecewa. Tetap bekerja yang terbaik,” kata Ahok yang didampingi pasangannya Djarot Saiful Hidayat bersama partai pengusung dan para relawan dalam konferensi pers di Hotel Pulman, Jakarta, Rabu (19/4).

Ahok sangat percaya bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu. Bahkan menjadi pejabat atau tidak semua dalam rencana dan kehendak Tuhan. “Tahun 2007, saya gagal menjadi Gubernur Bangka Belitung. Tidak ada penyesalan.
Ternyata kemudian Tuhan punya menghendaki. Ahok naik kelas menjadi Wagub (2012) dan Gubernur DKI Jakarta 2014-d Oktober 2017,” imbuhnya.

Basuki mengaku kekalahan dalam sebuah proses demokrasi itu hal biasa.
Diapun berjiwa besar memberikan ucapan selamat kepada paslon nomor urut 3 ini. “Selamat kepada pak Anies dan Sandi. Kita ingin Jakarta yang lebih baik. Jakarta rumah kita bersama,” tutupnya.
Basuki menjelaskan, masa jabatannya memimpin Jakarta masih enam bulan kedepan.
Dalam sisa waktu tersebut, mereka akan menyelesaikan berbagai program yang tersisa. “Kami masih punya tanggungjawab beberapa proyek. Dalam sisa waktu yang ada, kami akan bekerja keras, meski kami akui tidak semuanya tuntas,” terangnya.

Ucapan selamat bagi Anies-Sandi juga datang dari Djarot Syaiful Hidayat. “Saya ucapkan selamat ke beliau sambil menunggu hasil real count dari KPUD,” kata Djarot dalam konferensi pers di Hotel Pulman, Jakarta, Rabu (19/4).
Djarot menjelaskan dari hasil perhitungan cepat (quick count) dari sejumlah lembaga survei saat ini, pasangan Anis-Sandi memang unggul. Meski tetap menunggu hasil perhitungan resmi KPUD DKI Jakarta, Djarot mengemukakan hasil tersebut membuat dirinya bersama Ahok memberikan selamat.
Dia meminta para pendukungnya untuk menahan diri. Para pendukung juga diminta untuk menjaga kebersamaan dan persatuan seluruh warga Jakarta.
“Kami berharap semua pihak tahan diri dan benar-benar menjaga rasa kebersamaan selama ini. Kami betul merasakan perjuangan selama ini dari relawan, pendukung dan masyarakt dalam memberikan hak pilih. Kami apresiasi kepada warga Jakarta yang memberikan hak pilih secara damai,” ujarnya.
Dia menegaskan dirinya bersama Ahok masih akan menjabat hingga Oktober 2017. Dalam sisa waktu yang ada, keduanya akan menyelesaikan berbagai program yang tersisa. Keduanya ingin meletakan dasar-dasar pembangunan di Jakarta ini.

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Ahok Mulai Aktif, Warga Antre Buat Mengadu Sejak Pukul 05.00 WIB

_90514619_thinkstockphotos-158589182

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) aktif bertugas kembali di Balai Kota DKI Jakarta, Senin 17 April 2017.

Suasana pendopo pun kembali ramai dengan para warga yang ingin mengadu kepada Ahok.

Bahkan, ada warga yang sudah datang sejak pukul 05.00 WIB, seperti Sumiati, warga Pondok Cabe, Tangerang, yang datang bersama 11 kerabatnya.

“Saya dari rumah pukul 03.40 WIB, sebenarnya bukan warga DKI, tetapi yang mau saya adukan ini kan soal perusahaan yang ada di Jakarta,” ujar Sumiati di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, seperti dikutip Kompas.com, Senin.

Sumiati ingin mengadu soal nasib dia dan teman-temannya yang tidak diberi uang pesangon.

Perusahaan tempat mereka bekerja ditutup dan mereka pun kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan tersebut berdomisili di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sumiati berharap, Ahok bisa memberikan solusi atas permasalahan mereka ini. “Jadi kami sudah tidak bekerja, tidak digaji, tidak diberi pesangon,” ujar Sumiati.

Ia mengaku sengaja tiba di Balai Kota DKI sejak pagi sekali. Dia khawatir tidak mendapatkan nomor antrean jika datang terlambat.

Terlebih lagi, dia harus mengoordinasikan 11 teman lain yang akan mengadu bersama. Datang pagi ternyata membawa manfaat untuk Sumiati dan kawan-kawannya.

Mereka mendapat urutan pertama untuk mengadu kepada Ahok. Hingga pukul 07.27 WIB, Ahok belum tiba di Balai Kota.

Namun, antrean warga sudah panjang. Kebanyakan mereka membawa dokumen-dokumen untuk diadukan kepada Ahok.

Sementara, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) berharap, warga yang mengadu kepadanya di pendopo Balai Kota DKI Jakarta semakin sedikit.

Sebab, beberapa bulan terakhir ini, Ahok mengikutsertakan jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI terkait untuk mendampinginya menerima aduan warga.

“Secara prinsip, dinas terkait ikut (menerima aduan), sekarang (aduan warga) bisa lebih cepat diproses. Kami harap makin lama makin enggak banyak orang (mengadu di Balai Kota) seharusnya,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta.

Hanya saja, menurut Ahok, warga terkadang kurang puas ketika langsung mengadu ke SKPD terkait. Beberapa warga, kata dia, mengaku ditolak oleh SKPD terkait saat melapor.

Hal itulah yang menyebabkan warga datang ke Balai Kota DKI Jakarta untuk mengadukan permasalahan mereka kepada Ahok.

Jika pelayanan di bawah semakin baik, kata Ahok, tak akan lagi ada permasalahan yang membuat warga mengadu.

“Nah tapi kadang-kadang lebih banyak warga yang minta foto (daripada mengadu). Banyak (warga) dari luar kota juga tadi,” kata dia.

Setiap harinya, Ahok menerima warga di pendopo Balai Kota DKI Jakarta. Hal ini sudah dilaksanakan sejak ia menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Bedanya, saat menjabat Wagub DKI, dia menerima warga di lantai 2 Balai Kota DKI Jakarta. Tak hanya mengadu, warga kerap mengantre untuk berfoto bersama Ahok.

Biasanya, Ahok menghabiskan waktu selama dua jam, mulai pukul 07.30 hingga 09.30 untuk melayani warga.

Beberapa SKPD yang ikut mendampingi Ahok seperti dari Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ( BPTSP) DKI Jakarta, Biro Hukum DKI Jakarta, Dinas Kesehatan, Dinas Bina Marga, Dinas Tata Air, dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Djarot Resmikan Pelaksanaan Bedah Rumah di Jakarta

_90514619_thinkstockphotos-158589182

Jakarta – Dalam agenda pertama pasca kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) putaran kedua, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat meresmikan pelaksanaan bedah rumah, di Jalan Cilincing Lama I, Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara.

Terhitung ada 83 rumah di Kelurahan Cilincing akan direnovasi secara total hingga nampak seperti rumah baru.

“Ini program sudah ada sejak lama. Namun, kita sempurnakan sistemnya kembali,” ujar Djarot saat meresmikan pelaksanaan Bedah Rumah, di Jalan Cilincing Lama I, Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, seperti dikutip Warta Kota, Senin 17 April 2017.

Dia menjelaskan, supaya penerima program Bedah Rumah itu tepat sasaran, maka perlu kroscek kembali baik data maupun lapangan.

Pengerjaan dilakukan dengan sistem gotong-royong.

“Jadi tidak hanya mengandalkan Pasukan Merah, Oranye, dan Biru, tapi warga sekitar ini pun harus turut membantu pasukan. Lalu soal dana program ini bisa dari Badan Amal, Zakat, Infak, Sodaqoh (Bazis), Corporate Sosial Responsibility (CSR), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), maupun dari sejumlah semangat gotong royong masyarakat sekitar,” terangnya.

Tidak hanya pembangunan rumah, tapi segala kepengurusan Izin Mendirikan Bangunan atau IMB hingga kepemilikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) pemilik rumah turut dikonfirmasi.

“Jika belum memiliki semua itu ya maka akan direkomendasikan. Sehingga kualitas hidup di masyarakat Jakarta itu pun meningkat. Indeks pembangunan manusia juga meningkat,” ujarnya.

“Hal ini kewajiban juga bersama, tak hanya jajaran pemerintah tetapi juga para tokoh masyarakat dan Tokoh Agama, beserta alim ulama. Selain itu mereka saudara kita semua kan, dan harus saling jalin gotong royong,” katanya.

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Unggul di Media Sosial, PoliticaWave Memprediksi Ahok-Djarot Menang 52,72 Persen di Pilkada DKI

media sosial

Jakarta – Para perselancar dunia maya meramaikan pemilihan kepala daerah putaran kedua DKI Jakarta. Lembaga pemantau percakapan di media sosial, PoliticaWave, telah memantau aspirasi masyarakat Indonesia di dunia maya melalui tujuh media, yaitu Twitter, Facebook, Blog, Forum, Online News, Instagram, dan Youtube.

Hasil pemantauan PoliticaWave, terdapat 14.603.893 percakapan dan 2.258.354 netizen yang melakukan percakapan terkait Pilkada DKI. Hasil pemantauan PoliticaWave pada 1–10 Februari 2017 menunjukkan keunggulan pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok-Djarot Syaiful Hidayat.

“Ahok-Djarot sebesar 52,72 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebesar 47,28 persen,” kata pendiri PoliticaWave Yose Rizal dalam siaran pers, Sabtu, 15 April 2017, seperti dikutip Tempo.co.

“Kami juga memetakan sentimen netizen terhadap kedua pasangan,” ujar Yose.

Menurut Yose, setiap percakapan diberi makna sentimen positif, negatif atau netral. Hasil survei menyebut pasangan Ahok-Djarot mendapat sentimen yang lebih positif daripada pasangan Anies-Sandi.

Sentimen positif Ahok-Djarot sebesar 54,92 persen, sedangkan sentimen negatifnya sebesar 45,08 persen. Sementara Anies-Sandi sentimen positifnya lebih kecil dari sentimen negatif, yaitu 44,54 persen berbanding 55,46 persen.

“Dari dua metrik tersebut, PoliticaWave memprediksi pasangan Ahok-Djarot akan memenangkan Pilkada DKI 2017 dengan elektabilitas sebesar 52,72 persen,” kata Yose.

Yose mengatakan, isu positif untuk pasangan Ahok-Djarot di antaranya dukungan netizen terkait proses persidangan, dukungan dari relawan Agus-Sylvi dan komunitas, dukungan dari partai politik Islam, serta penampilan di debat dan program kerja.

Sementara sentimen negatif yang ditujukan kepada Ahok-Djarot mayoritas berasal dari isu penistaan agama dan proses persidangan, desakan gubernur nonaktif, aksi 212 dan 313, serta kalah di beberapa survei.

Untuk pasangan Anies-Sandi, ujar Yose, isu positif yang banyak diperbincangkan adalah dukungan dari ormas dan komunitas, dukungan PAN dan Perindo, unggul dalam beberapa survei, penghentian reklamasi, dan program kerja.

Sementara isu negatif yang ditujukan kepada Anies-Sandi adalah kritik terhadap program kerja, dugaan beberapa kasus hukum, dan dugaan kampanye SARA.

Yose menjelaskan, setiap percakapan terkait dengan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur di media-media tersebut dianalisa oleh platform PoliticaWave.

Semua BOT dan akun-akun spammer juga difilter dalam proses ini sehingga percakapan yang dihitung hanya yang berasal dari netizen asli.

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Ahok Targetkan Revitalisasi Kawasan Kota Tua Selesai dalam Lima Tahun

_90514619_thinkstockphotos-158589182

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menargetkan revitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta, rampung sebelum lima tahun.

Adapun revitalisasi dilakukan untuk memperbaiki infrastruktur serta mengembalikan bentuk bangunan di kawasan Kota Tua seperti sediakala.

“Kami harap (revitalisasi kawasan Kota Tua) enggak sampai lima tahun bisa selesai. Saya enggak mau, ini (revitalisasi Kota Tua) baru selesai 20-30 tahun, 5 tahun harus selesai,” kata Ahok, di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, seperti dikutip Kompas.com, Minggu 16 April 2017.

Ahok mengatakan, salah satu prioritas dalam revitalisasi Kota Tua adalah membersihkan aliran Kali Besar Barat.

Dia merencanakan menjadikan Kali Besar Barat sebagai tempat “nongkrong” baru bagi warga. Air di kali itu akan disaring menjadi bersih dilengkapi dengan taman di sisi kiri dan kanannya.

Revitalisasi Kali Besar Barat termasuk ke dalam Instruksi Gubernur Nomor 101 Tahun 2016 tentang percepatan revitalisasi Kota Tua.

Nantinya, pekerjaan itu juga akan dilanjutkan hingga ke Kali Pakin, Pasar Ikan, Jakarta Utara.

“Termasuk kami akan merapikan Luar Batang hingga Museum Bahari,” kata Ahok.

Penataan Kali Besar Barat itu terinspirasi dari Sungai Cheonggyecheon yang berada di jantung kota Seoul.

Ahok telah mengujicoba teknologi pembersihan kali dari Seoul ke kali di Masjid Istiqlal.

Tapi Ahok mengaku terkendala dalam merevitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta.

Adapun kawasan Kota Tua telah direncanakan direvitalisasi sejak tahun 2012 dan dicanangkan pada tahun 2014. Namun, hingga kini, pelaksanaan revitalisasi belum sempurna.

“Kendalanya (revitalisasi Kota Tua) karena kepemilikan gedung, banyak BUMN-nya (gedung yang dimiliki BUMN),” kata Ahok.

Adapun 17 gedung tua di kawasan Kota Tua merupakan milik BUMN, yang dipegang PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Ahok mengaku sudah meminta percepatan revitalisasi, namun masih terkendala. Bahkan, kata dia, Pemprov DKI Jakarta pernah menyurati Susilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu menjabat Presiden.

Harapannya, Pemprov dapat mengelola gedung tersebut.

“Kami sudah surati Pak SBY untuk meminta supaya bagaimana aset ini dikelola oleh kami (Pemprov DKI Jakarta). Tapi enggak dijawab-jawab juga (sama SBY),” kata Ahok.

Selain itu, ada pergantian pucuk kepemimpinan PT Jakarta Old Town Revitalization Corps (JOTRC) sebagai konsorsium penanggung jawab revitalisasi kawasan Kota Tua. Eddy Sambuaga kini menjabat sebagai Managing Director Konsorsium Kota Tua Jakarta.

Ahok mengungkapkan alasan perombakan keanggotan pada konsorsium PT Jakarta Old Town Revitalization Corps (JOTRC) sebagai penanggungjawab revitalisasi kawasan Kota Tua.

Menurut dia, konsorsium itu pernah menyebut bahwa revitalisasi kawasan Kota Tua baru akan rampung pada 20-30 tahun mendatang.

“Saya enggak setuju kalau konsorsium yang dulu ngomong, lemas juga saya dengarnya, dan saya enggak setuju. Katanya, butuh 20-30 tahun beresin Kota Tua, enggak benar ini, kita bisa beresin cepat,” kata Ahok.

Kini, Eddy Sambuaga menjabat sebagai Managing Director Konsorsium Kota Tua. Adapun rencana revitalisasi kawasan Kota Tua sudah direncanakan sejak tahun 2012 dan dicanangkan pada tahun 2014.

Ahok menjelaskan, hambatan dalam revitalisasi Kota Tua adalah mengenai lelang. Kadang-kadang, kata Ahok, konsorsium mendapat kontraktor yang tak mengetahui persoalan seni.

“Soal cat saja, saya kaget setengah mati. Karena dulu kami dikasih sumbang cat tapi enggak boleh, katanya catnya enggak bisa bernafas. Baru kali itu saya ngerti ada catnya enggak bisa bernafas,” kata Ahok.

Hambatan lainnya, ketika akan merevitalisasi kawasan Pasar Ikan. Menurut Ahok, banyak ditemukan situs bersejarah seperti tiang dan pondasi. Kemudian, revitalisasi Kota Tua langsung terhenti.

Selain itu, situs bersejarah juga ditemukan saat akan merevitalisasi Kali Besar Barat.

Ahok mengatakan, seharusnya revitalisasi Kali Besar Barat rampung tahun ini. Air Kali Besar Barat rencananya akan dibuat bening seperti sungai di Korea Selatan.

Revitalisasi Kali Besar Barat diperkirakan akan mengeluarkan biaya hingga Rp 270 miliar dari kewajiban pengembang.

“Ini juga disetop, enggak gerak, karena ketemu tiang atau kolong yang bersejarah. Ini masalah (revitalisasi) Kota Tua memang butuh waktu,” kata Ahok.

Dia menegaskan, revitalisasi Kota Tua harus rampung dalam 5 tahun. Revitalisasi itu meliputi kawasan Sunda Kelapa, Waduk Pluit, Muara Baru, dan Pasar Ikan.

“Kami harus menyiapkan trotoar yang baik sampai ke Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol, Museum Bahari, sampai Masjid Luar Batang. Kami juga harus merapikan rumah-rumah di sana,” kata Ahok.

Selengkapnya
HeadlineTulisan

Djarot Ingin Ada Konser Reggae di RPTRA Kalijodo

_90514619_thinkstockphotos-158589182

Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menantang Komunitas Reggae Indonesia untuk menggelar konser bersama dengan mengumpulkan musikus reggae di Jakarta. Menurut dia, genre musik reggae menjadi salah satu musik yang bisa dinikmati semua kalangan di Jakarta.

“Karena itu kita diskusi bagaimana kalau buat konser reggae misalnya dipusatkan di (RPTRA) Kalijodo. Musik reggae itu kan musik yang enteng, menggembirakan, dan gampang diikutin,” kata Djarot di Pisa Cafe, Jakarta, seperti dikutip Tempo.co, Minggu 16 April 2017.

Ia pun mengusulkan konser bersama komunitas reggae menggunakan konsep bank sampah.

Tujuannya, mengundang masyarakat untuk bernyanyi sekaligus mengajak warga Jakarta untuk tidak membuang sampah sembarangan. “Banyak ide yang mereka sampaikan,” kata dia.

Gayung Djarot bersambut. Koordinator Komunitas Reggae Indonesia, Conrad, mengatakan penyediaan ruang konser untuk komunitas reggae menjadi perhatian komunitasnya dan Djarot.

Sebab, ia menilai hingga hari ini komunitas reggae masih dikonotasikan negatif dan hanya dinikmati di masyarakat menengah ke bawah.

Selain itu, menurut Conrad, pengembangan seni dan budaya di Jakarta belum menjadi fokus pemerintah yang lebih berfokus pada pengembangan olahraga.

Ia mengkritik perizinan dan biaya yang mahal ketika menyewa gelanggang olah raga atau gedung kesenian untuk petunjukkan. “Kita pingin Jakarta menjadi kota yang kreatif,” kata Conrad.

Ia pun juga mendorong konsep bank sampah untuk menggelar pertunjukkan reggae di Jakarta. Masyarakat yang ingin mendapat hiburan, kata dia, harus membuat bank sampah sehingga lingkungannya bersih. “Mereka menonton gratis, pemerintah yang bayar,” ujarnya.

Hari ini Djarot bertemu dengan komunitas reggae. Pertemuan berlangsung hangat, cair, dan dipenuhi candaan selama kurang lebih satu jam.

Komunitas yang dimotori Conrad pun mengundang Djarot untuk bernyanyi bersama. Dari lagu Kolam Susu besutan Koes Plus sampai Can’t Help Falling in Love milik Elvis Presley. Djarot mengaku familiar dengan musik reggae.

Djarot menolak jika pertemuan ini bukan menjadi bagian kampanyenya sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta.

“Orang kita lagi senang-senang, masa dibilang kampanye. Saya menjalankan tugas sebagai wakil gubernur,” kata Djarot.

Selengkapnya