close

Headline

Headline

HeadlineTulisan

Banjir Jakarta dan Tertawanya Anies..

IMG_5870

Lama sudah, Jakarta sebagai Ibukota Negara bersinonim dengan kota banjir. Namun dalam dua tahun terakhir, kata banjir seolah-olah hampir hilang dari kosa-kata warga ibukota. Terakhir ketika intensitas hujan meninggi pada Desember hingga Januari lalu, ketahanan banjir ibukota masih tetap teruji. Sistem drainase Jakarta yg mulai dirintis AHOK masih dapat menampung volume air.

Hal tersebut tidak lepas dari mulainya saluran-saluran air dibersihkan oleh pasukan orange, sebagian sungai yg juga sudah di normalisasi, sehingga air tidak berhenti dan menggenang ketika hujan, air mengalir sampai jauh ke hilir..

Namun sejak pertengahan Februari sampai saat ini, tidak hanya intensitas hujan yang semakin meningkat (sepanjang hari, pagi hingga malam) namun yang juga sangat menentukan adalah limpahan kiriman air dengan volume besar dari Bogor. Akhirnya beberapa titik di kota Jakarta kembali mengalami banjir walaupun tidak lagi seperti dulu hingga berminggu-minggu air tidak surut. Dalam hitungan jam air-air tersebut sudah kembali dialirkan
sampai jauh.

Disini, dimulainya tragedi dan ironi sosial terjadi. Keadaan banjir ini membuat pendukung Anies-Sandi seakan mendapatkan berkah kemenangan. Banjir disambut dengan tawa dan sukacita, seakan mendapatkan amunisi baru. Sebuah sukacita dan kegembiraan di atas beban dan derita masyarakat yg menjadi korban banjir, walau tak lagi bermingu-minggu. Berbagai postingan di FB, meme dan nyinyiran bermunculan yang memuat berita banjir Jakarta yang tentu saja peluru-peluru itu di arahkan kepada AHOK, dengan framing Ahok tidak mampu mengatasi banjir. Dalam benak mereka, banjir yg adalah malapetaka ternyata menjadi sebuah kebanggaan, bahkan bila perlu datanglah banjir yang lebih besar lagi.

Tawa dan sukacita di atas penderitaan warga yg menjadi korban banjir adalah sebuah ironi kemanusiaan. Hasrat dan keinginan untuk berkuasa telah menafikan nalar dan nurani kemanuisaan. Dan semua itu hanya karena kepentingan politik jangka pendek; Pilkada.

Bila nalar masih sehat, volume air akibat hujan yg terus-menerus plus limpahan air dari Bogor, tidak akan mampu ditampung oleh sungai-sungai di Jakarta yang menyempit dipenuhi oleh para penduduk. Bila nalar masih sehat, tingginya volume air yg masuk ke Jakarta seperti saat ini dan kondisi 60% bantaran sungai masih diduduki warga, maka banjir adalah konsekuensi logis dan tidak terhindarkan.

Bila nalar masih sehat, banjir bukan urusan Ahok saja. Mengatasi banjir adalah tanggungjawab semua warga Jakarta. Seharusnya banjir menjadi keprihatinan bersama yg melampaui kepentingan politik sesaat, apalagi yg konon berhasrat ingin jadi pemimpim. Lalu di mana tempat tawa dan sukacitamu? Di luar hati nurani dan akal sehatmu.

Namun Fakta dan data telah memperlihatkan bukti kerja AHOK selama mengabdi bagi warga Jakarta. Dari ratusan titik banjir yg menjadikan kota Jakarta sebagai Ibukotanya banjir, kini hanya dalam dua tahun, titik-titik banjir tersebut hanya tinggal 80 titik. Masihkah nalar menolak dan nurani terus dibutakan?

Penrad Siagian

selengkapnya
HeadlineTulisan

Tafsir al-Nisa: 138-139 bukan mengenai Pilkada

IMG_5869

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi AWLIYA dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

Mari kita jujur pada keilmuan kita, dan jangan ikut-ikutan main politik. Setelah sebelumnya gagal mempolitisir terjemahan QS al-Maidah:51, kali ini sebagian pihak terus menerus mengangkat terjemahan QS al-Nisa:138-139 dengan melabeli muslim yang pilih kandidat non-Muslim sebagai munafik. Masalahnya, kata “awliya” baik dalam QS al-Maidah:51 maupun QS al-Nisa:139 sama-sama tidak bicara soal pemimpin.

Parahnya lagi banyak yang tidak bisa membedakan teks asli al-Qur’an dalam bahasa Arab, dengan terjemahannya. Yang ngotot mengatakan orang lain munafik karena memilih pemimpin non-Muslim itu ternyata hanya pakai terjemahan satu versi, padahal terjemahan lainnya tidak mengatakan Awliya sebagai pemimpin. Kok ngotot gara-gara terjemahan? Ironis bukan?

Mari lihat sendiri Qur’an terjemahan di rumah masing-masing. Cek QS al-Nisa ayat 139. Apa terjemahannya? Cek juga terjemahan dalam berbagai bahasa lain, nanti kita akan terkejut membacanya.

Pelacakan saya terhadap kitab-kitab tafsir klasik saya belum menemukan yang mengartikan awliya dalam QS al-Nisa ayat 139 sebagai pemimpin. Umumnya mereka mengartikannya sebagai teman setia, pelindung, penolong atau sekutu. Akan ada yang protes: Kalau sebagai teman setia saja tidak boleh apalagi sebagai pemimpin? Sampai di sini anda sudah ngeles dengan memakai logika yang tidak sahih. Katanya anda ingin berpegang pada al-Qur’an dan membela ulama, kenapa setelah ditunjukkan penjelasan para ulama, anda justru memakai logika? Ini namanya memaksakan logika anda untuk menarik-narik ayat al-Qur’an agar sesuai dengan kepentingan politik anda. Dengan kata lain, anda tidak membela al-Qur’an tetapi membela logika anda sendiri.

Tafsir al-Thabari mengartikan awliya pada ayat ini sebagai penolong dan kekasih, bukan pemimpin. Kata “kafir” dalam QS al-Nisa ayat 139 ini menurut Ibn Abbas ditujukan kepada Yahudi. Tafsir Khozin juga berpendapat serupa. Sayyid Thantawi menguatkan pendapat Ibn Abbas ini. Kalau kita mengikuti alur ketiga kitab tafsir ini, yang secara khusus dilarang adalah menjadikan Yahudi di Madinah saat itu sebagai penolong dan pelindung serta teman setia, bukan semua orang kafir.

Tafsir al-Qurtubi mengatakan awliya dalam ayat ini konteksnya membantu dalam amalan yang berkenaan dengan agama. Tafsir al-Munir juga mengatakan hal yang sama. Itu artinya, kalau kita ikuti alur kedua kitab tafsir ini, berhubungan baik dengan non-Muslim di luar masalah agama, seperti bermuamalah, bertetangga, bekerja, transaksi, dll, dibenarkan oleh Islam. Kedua Tafsir ini –yang satu klasik, dan yang satunya modern– mengutip riwayat Nabi yang saat hendak berjihad didatangi seorang musyrik yang hendak membantu Nabi dalam jihadnya itu. Tawaran bantuan orang Musyrik ini ditolak oleh Nabi (HR Abu Dawud). Jadi, inilah konteks yg dimaksud QS al-Nisa ayat 139, bukan soal kepemimpinan.

Saya terus terang tidak keberatan siapapun yang menang. KH Mar’ruf Amin sudah menegaskan bahwa beliau pun rela dan akan menerima siapapun yang menang dalam proses Pilkada yang demokratis, transparan dan jujur. Saya tidak keberatan Anies-Sandi yang menang. Saya pun akan menerima kalau Ahok-Djarot yang menang. Yang penting semuanya rukun, damai, dan menegakkan politik etis tanpa mempolitisir ayat suci, bertarung dengan elegan, menawarkan program yang bermanfaat buat rakyat, dan menang secara terhormat.

Pada saat yang sama umat harus terus diedukasi dan diberi pencerahan akan makna dan kandungan ayat al-Qur’an sesuai tafsir para ulama, bukan pakai logika dan kepentingan para politisi. Setiap upaya mereduksi ayat suci ke dalam kubangan politik kotor harus kita lawan. Setiap upaya pembodohan terhadap umat dengan semata hendak membangkitkan emosi massa harus kita tangkal. Setiap penafsiran dan penerjemahan yang tidak sesuai dengan qawa’id tafsir harus kita jelaskan dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar. Mari kita jujur pada keilmuan kita!

10 rujukan kitab Tafsir saya cantumkan di bawah ini (monggo kalau ada yang berkenan melengkapi referensi ini):

1. Tafsir al-Thabari:

‎دِينِي أَوْلِيَاءَ: يَعْنِي أَنْصَارًا وَأَخِلَّاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ , يَعْنِي: مِنْ غَيْرِ الْمُؤْمِنِينَ {أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ} [النساء: ١٣٩]

2. Tafsir al-Qurthubi:

‎وَتَضَمَّنَتِ الْمَنْعَ مِنْ مُوَالَاةِ الْكَافِرِ، وَأَنْ يُتَّخَذُوا أَعْوَانًا عَلَى الْأَعْمَالِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالدِّينِ. وَفِي الصَّحِيحِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْمُشْرِكِينَ لَحِقَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَاتِلُ مَعَهُ، فَقَالَ لَهُ: (ارْجِعْ فَإِنَّا لَا نَسْتَعِينُ بِمُشْرِكٍ).

3. Tafsir Ibn Abbas:

‎ثمَّ بيَّن صفتهمْ فَقَالَ {الَّذين يَتَّخِذُونَ الْكَافرين} يَعْنِي الْيَهُود {أَوْلِيَآءَ} فِي العون والنصرة {مِن دُونِ الْمُؤمنِينَ} المخلصين {أَيَبْتَغُونَ} أيطلبون {عِندَهُمُ} عِنْد الْيَهُود {الْعِزَّة} الْقُدْرَة والمنعة {فَإِنَّ الْعِزَّة} المنعة وَالْقُدْرَة {لِلَّهِ جَمِيعاً}

4. Tafsir al-Tsa’labi:

‎ثم وصف المنافقين فقال { ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ } أنصاراً وبطانة { مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلْعِزَّةَ } يعني الرفد والمعونة والظهور على محمّد وأصحابه.

5. Tafsir Hasyiah al-Shawi:

‎قوله: { أَوْلِيَآءَ } أي أصحاباً يوالونهم ويستعزون بهم، لزعمه أن الكفار لهم اليد العليا، وأن الإسلام سيهدم لقلة أهله.

6. Tafsir al-Munir:

‎وتضمنت الآية المنع من موالاة الكفار، وأن يتخذوا أعوانا على الأعمال المتعلقة بالدين.
‎وفي الصحيح عن عائشة رضي الله عنها أن رجلا من المشركين لحق بالنبي صلّى الله عليه وسلّم يقاتل معه، فقال له: «ارجع فإنا لا نستعين بمشرك»

7. Tafsir al-Wasith Sayyid Thantawi:

‎والمراد بالكافرين هنا: اليهود – على أرجح الأقوال – فقد حكى عن المنافقين أنهم كانوا يقولون: إن أمر محمد صلى الله عليه وسلم لن يتم فتولوا اليهود، ولأن غالب سكان المدينة – من غير المسلمين – كان من اليهود
‎وقوله { مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ } حال من فاعل يتخذون. أى: يتخذون الكفار أنصارا لهم حالة كونهم متجاوزين ولاية المؤمنين ونصرتهم.

8. Tafsir al-Qasimi:

‎ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ } أي: يتخذونهم أنصاراً مجاوزين موالاة المؤمنين

9. Tafsir al-Khozin:

‎ثم وصف الله تعالى المنافقين فقال تعالى: الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ يعني يتخذون اليهود أولياء وأنصارا وبطانة من دون المؤمنين وذلك أن المنافقين كانوا يقولون إن محمدا لا يتم أمره فيوالون اليهود فقال الله تعالى ردا على المنافقين: أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ يعني يطلبون من اليهود العزة والمعونة والظهور على محمد صلّى الله عليه وسلّم وأصحابه فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً

10. Tafsir al-Sya’rawi:

‎وأول مظهر من مظاهر النفاق أن يتخذ المنافقُ الكافرَ ولياً له؛ يقرب منه ويوده، ويستمد منه النصرة والمعونة، والمؤانسة؛ والمجالسة، ويترك المؤمنين.


Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

selengkapnya
HeadlineTulisan

Doa Warga untuk Ahok

Image 2017-01-26 at 5.33.34 PM

Ahok…
Di saat pemilihan gubenur beberapa tahun lalu di Jakarta, aku benar-benar baru tahu anda, namun aku tidak peduli dengan anda, apalagi anda Cina. Yang aku pilih hanya Jokowi, wakilnya terserahlah siapa saja.

Jokowi membuat aku bangga dengan blusukannya, sangat merakyat. Sementara anda sibuk ngamuk-ngamuk dan marah-marah.

Saat itu aku bingung dengan anda: gubenur saja sangat rendah hati, kok anda hanya wakil galak banget dg rakyat. Gayamu lebih parah dari preman pasar. Pokoknya aku gak simpati sama kamu.

Hari terus berlalu. Penggusuran sudah dimulai, penertiban dimana mana, banjir mulai teratasi, pelayanan masyarakat terasa, pembangunan berjalan, keuangan transparan, preman dilibas.

Saat itu pula: Maling maling bersuara, demo bergejolak, mafia mengamuk, kebencian datang, fitnah dimana mana, adu domba dimulai, musuh berkeliaran, kekacauan begitu terasa.

Siapa yang salah? Entahlah..
Aku melihat kamu berjalan sesuai rel yang berlaku, walau sekali-kali kamu menantang rel itu, namun kebaikan
Memang ada di sana. Kekerasan hatimu memperlihatkan ketegasan dan kepedulian.

Sungguh maha dasyat gebrakanmu. Kenapa setiap langkahmu selalu membawa kebencian?
Kenapa? Entahlah..

Ini negeriku, airku, tumpah darahku.
Kenapa saat kebaikan datang, saat itu pula kebencian hadir?
Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi di negeriku ini? Tunjukanlah kepada kami mukjizatmu ya Allah. Lindungilah
Ahok yang membawa kebaikan bagi negeriku, jauhkan ia dari kesulitan dan mudahkanlah urusannya.

Entah kenapa aku jadi ingin menjagamu, Ahok. Tapi aku tidak punya daya. Aku hanya punya doa, aku hanya punya suara buatmu yang pasti aku mencoblos di Pilkada sekarang.

Lawan terus korupsi
Lawan terus preman
Lawan terus kemunafikan
Lawan terus penghianat negeri
Jangan gentar, kau penyelamat negeri bagiku, bagi Jakarta.

Seumur hidupku, baru saat inilah aku merasakan pemimpin yang beda. Tidak satupun yang bisa menandingi baktimu.

Ahok, kamu hebat: jujur, keras, berani, peduli rakyat, peduli islam, peduli keindahan, peduli bersih, peduli kesehatan, peduli kemiskinan, peduli kesejahteraan.

Hmmm…
Kamu itu datang dari mana sih?
Kami sudah lama menanti figurmu.
Kejujuran mulai bangkit, ketulusan telah hadir.
Tapi, musuhmu selalu banyak..
Walaaah…
Kenapa? Entahlah..
Tapi percayalah dan yakinlah: KEBENARAN AKAN MENANG

Ahok, teruslah melangkah, doaku menyertaimu. Baktimu akan terus
terukir dinegri ini.

Salam damai negeri Bhinneka Tunggal Ika, semoga Ahok selalu dalam lindunganNya, Amiin.

Deni Sagara

selengkapnya
HeadlineTulisan

Al Maidah 51 dan Rebutan Kekuasaan

maimun zubair

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”

Ayat di atas sedang populer sekarang. Ayat itu selalu populer menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat bergema. Tapi apakah ayat ini soal pemilu? Apakah ini ayat soal pemilihan gubernur? Menurut saya bukan.

Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilihan umum. Juga tak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tidak pernah dipilih.

Jadi ayat ini tentang apa? Wali atau awliya itu soal pemimpin wilayah atau daerahkah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya?

Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum Muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya yang seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi.

Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81. Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang.

Pagi ini, bangun tidur saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana? Ke Eropa. Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka? Sebagian besar bukan. Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau ateis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang Muslim, persis seperti ketika kaum Muslim hijrah ke Habasyah.

Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya. Bisakah?

Ironisnya, dari siapa mereka lari? Dari kaum kafir? Bukan. Mereka lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum Muslim. Kaum Muslim yang berebut kekuasaan.

Tahukah Anda bahwa bibit konflik sesama muslim itu sudah terbentuk sejak Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak kusuk untuk mencari siapa yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum Muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini.

Tidakkah kita sebagai kaum Muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.

Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum Muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik. Perebutan kekuasaan.

Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan Al-Maidah ayat 51. Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan. Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad. Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya tidak mau menjadi pengungsi seperti orang2 Irak dan Syiria itu.

Fathiya Hamka

selengkapnya
HeadlineTulisan

Ahok: Kawasan Banjir Tinggal 80 Titik dari 2.200 Titik

06 Banjir

Hujan yang terus menerus mengguyur Jakarta sejak beberapa hari ini membuat Jakarta di beberapa titik terkena banjir. Namun meski diakui bahwa banjir yang sekarang terjadi dikarenakan curah hujan yang tinggi, bukan karena faktor limpahan air sungai, lebih cepat surutnya. Ini dikarenakan sigapnya petugas yang bekerja.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, akrab disapa Ahok, mengklaim Pemerintah Provinsi DKI di bawah kepemimpinannya sebagai kepala daerah sejak Oktober 2012, telah menghilangkan setidaknya 2.120 titik banjir di Jakarta.

Pada saat Ahok, sapaan akrab Basuki, menjadi Wakil Gubernur DKI bersama pasangannya, mantan Gubernur DKI Joko Widodo, pemerintah mendata ada sekitar 2.200 titik banjir.

Saat ini, setelah lebih dari empat tahun, setelah proyek normalisasi Kali Ciliwung, salah satu program utama untuk menanggulangi banjir di Jakarta dikerjakan 40 persen. Titik banjir kemudian tersisa hanya tinggal 80 titik saja.

“Tahun lalu tinggal 400-an (titik banjir). Bulan ini, sebelum naik lagi (sebelum banjir terjadi di beberapa titik akibat hujan deras), tinggal 80 titik saja,” ujar Ahok di Balai Kota DKI, Senin, 20 Februari 2017.

Menurut Ahok, sejumlah lokasi di bulan Februari yang masih digenangi banjir, seperti kawasan Bukit Duri pekan lalu atau Cipinang Melayu, Minggu kemarin, 19 Februari 2017, adalah titik di mana proyek normalisasi belum dilaksanakan di sana.

Kendalanya adalah lahan yang belum berhasil dibebaskan. Hal itu, merupakan salah satu masalah yang dibahas dalam rapat pimpinan (rapim) pemerintah yang dipimpin Ahok kemarin pagi.

Ahok menawarkan pembelian dengan harga pasar kepada pemilik lahan. Namun syaratnya, pemilik lahan itu harus memiliki sertifikat supaya bisa dibeli secara sah.

“Kalau ada yang punya lahan, saya kan bilang masyarakat segera buat sertifikat. Atau rumah lama, usahakan urus sertifikat. Dulu (mengurus sertifikat) susah, harus bayar BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan). Sekarang saya gratiskan,” ujar Ahok.

selengkapnya
HeadlineTulisan

Anies Menertawakan Bukit Duri Banjir

IMG_5865

Anies dan pendukung tertawa senang ketika mereka mendengar Warga Bukit Duri kebanjiran. “Buktinya Bukit Duri masih banjir. Hahahahaha,” ujar Anies dalam salah satu celoteh di depan pendukungnya. Pendukungnya menyambut dengan tawa tergelak.

Betapa bahagianya mereka.

Bukit Duri adalah kawasan yang semestinya terkena relokasi, agar proyek normalisasi sungai tidak terhambat. Tapi sebagian warga menolak. Mereka menuntut ke pengadilan. Dimenangkan. Lalu Pemda mengajukan banding, dan kali ini pengadilan memenangkan Pemda.

Para pendukung Anies adalah mereka yang sejak awal memang getol menyuarakan anti penggusuran pada warga Bukit Duri ini. Atas nama hukum proses normalisasi terhenti.

Lalu, seperti sudah diduga, musim hujan tahun ini cukup dasyat terjadi di Indonesia. Dampaknya dirasakan di berbagai daerah. Banjir di mana-mana. Untung saja, di Jakarta sebagian sungai sudah berhasil dinormalisasi. Jika tidak, bisa dibayangkan tahun ini Jakarta akan berubah jadi danau besar.

Dalam catatan, sebanyak dua pertiga wilayah yang tadinya biasa terdampak banjir, kini tidak mengalami lagi. Sisanya, karena memang kontur tanah yang cekung dan proses normalisasi sungai yang belum rampung, masih juga terkena banjir. Salah satunya adalah warga Bukit Duri.

Apa reaksi pertama seorang calon Gubernur penantang, mendengar ada wilayah Jakarta yang masih terkena banjir? Ngakak!

Mungkin maksudnya dia menertawakan Ahok, yang sudah bekerja sedemikian keras, ternyata banjir masih ada juga di Jakarta. Mungkin juga menertawakan warga Bukit Duri yang kini sedang berlelah-lelah menghadapi banjir.

Entahlah, apa bagi Anies, banjir memang layak untuk ditertawakan?

Memang, kepala daerah yang diusung PKS selalu punya cara tersendiri untuk merespon banjir yang melanda wilayahnya.

Di Jawa Barat, Ahmad Heryawan biasanya menitikkan air mata jika banjir melanda warganya. Di Jakarta, Anies malah kegirangan.

Maklum, Ahmad Heryawan sudah jadi Gubernur dan Anies baru saja jadi calon Gubernur.

Sementara Ahok dan Djarot sedang sibuk mengoordinasikan dan menggerakkan pasukan oranye dan petugas terkait lainnya untuk meredakan dampak limpahan air ini di Bukit Duri ini dan wilayah lainnya yang terkena banjir.

Eko Kuntadhi

selengkapnya
HeadlineTulisan

Janji Menjadi Ahok

IMG_5864

“Pak, kalau nanti bapak terpilih jadi Gubernur, KJP akan tetap ada, kan?”

“Oh, iya. Akan tetap ada. Gak akan kami ubah. Tetap akan berjalan persis dengan di jamannya Pak Ahok.”

“Janji ya, pak. Jangan diubah-ubah.”

“Itu janji kami.”

“Terus pasukan oranye, biru, dan semua pasukan gerak cepat akan ada juga kan? Gak akan dibubarin?”

“Ohhh tentu, itu sudah bagus. Kami akan kelola persis seperti Pak Ahok kekola mereka.”

“Terus, laporan warga bisa direspon cepat juga, kan pak? Seperti pak Ahok meresponnya?”

“Ohh… tentu. Setiap laporan warga akan kami respon cepat. Persis seperti pak Ahok meresponnya.”

“Terus para pegawai Pemda gak berubah lagi jadi suka pungli, kan? Janji ya, pak. Pelayanan mereka kepada rakyat harus sama seperti dijamannya Pak Ahok?”

“Ohh tentu. Semua pegawai Pemda akan melayani rakyatnya persis seperti ketika mereka di bawah Pak Ahok.”

“Terus, bapak janji akan menjaga APBD dari para pengutil proyek, kan?”

“Kami akan usahakan…”

“Jangan cuma diusahakan pak. Bapak bisa gak menjaga duit rakyat seperti Pak Ahok?”

“Ya, kami akan menjaga APBD seperti pak Ahok menjaga APBD.”

“Terus standar bus Transjakarta akan sebagus pilihan Pak Ahok, kan?”

“Ohh itu pasti.”

“Bapak juga akan memperhatikan marbot-marbot masjid seperti Pak Ahok memperhatikan mereka, kan?”

“Iya dong. Tentu”

“Jangan iya, iya doang Pak. Nanti pas jadi Gubernur cuma masjid PKS doang yang akan diperhatikan.”

“Gaklah. Kami akan perhatikan semuanya.”

“Janji ya, pak. Perhatiannya harus sama dengan cara pak Ahok memperhatikan para marbot itu.”

“Tentulah. Kami tidak akan ingkar janji.”

“Jadi bapak janji akan bertindak persis seperti tindakan Pak Ahok? Kalau begitu bapak tandatangi kontrak politik dulu, pak. Biar kami tambah yakin.”

Lalu cagub itu menandatangani sebuah kontrak politik yang isinya komitmen dia untuk menjadi Gubernur persis seperti Pak Ahok. Gak kurang. Gak lebih.

Setelah acara bubar, seorang warga lain mendekati temannya yang mengajukan kontrak politik tadi. “Jadi ente sudah yakin memilih dia di putaran kedua, nih?”

“Sebenarnya gue masih ragu sih. Soalnya dia baru bisa berjanji akan menjadi seperti Ahok kalau terpilih. Sementara Pak Basuki, dari sejak kecil sudah jadi Ahok. Gak perlu janji-janji lagi.”

eko kuntadhi

selengkapnya
HeadlineTulisan

Jangan Mudah Menganggap Orang Lain Munafik

IMG_5863

Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, “Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan.” Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur’an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.

Masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dna rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan. Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, ASWAJA tidak akan mudah mengkafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik. Kalau ada yang sampai tega mengkafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari ASWAJA.

Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua:

‎. لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء
‎ من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى

“Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala”.

Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta’ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta’ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno.

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : ‘mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?’ Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)”.

Belakangan ini di medsos seringkali banyak yang berkomentar “anda muslim?” untuk meragukan dan mempertanyakan keislaman orang lain hanya karena berbeda pendapat. Atau menjadi viral saat ini ajakan untuk tidak menshalatkan jenazah mereka yang memilih pemimpin non-Muslim karena dianggap Munafik. Penjelasan saya di atas telah menunjukkan bahwa sikap meragukan keislaman orang lain dan mudah memvonis orang lain Munafik adalah sikap yang tidak pantas dilakukan sesama Muslim. Para sahabat Nabi dan ulama salaf akan berhati-hati dalam soal ini.

Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

selengkapnya
HeadlineTulisan

Ahok Lebih Hebat Dari Batman

Image 2017-01-09 at 11.41.25 PM

Dear Ahok,

(Jujur) aku bukanlah fans-mu, bukan pula loyalismu. Katanya kamu sudah banyak pengalaman jadi pejabat publik, sebagai anggota dewan dan bupati. Tapi aku tak mengenalmu saat itu. Ah! Mungkin aku yang kurang gaul, kurang rajin baca berita. Atau kamu yang cupu. Kurang ngeksis di TV.

Aku baru mengenalmu saat kamu bersanding dengan Pakde Jokowi dalam pilkada DKI lalu. Dan aku lebih mengenalmu saat kamu resmi menjabat gubernur. Aku mengenalmu cukup lewat media. Mereka suka ‘ribut’ membicarakan kamu. Bagaimana tidak? Kamu selalu bikin ulah, ya soal Kalijodo, Metro Mini, PNS lelet, pompa air bahkan soal ‘nenek-nenek’ (a.k.a Pemahaman Nenek Lu). Dari itu semualah aku beranikan diri sok-sok-an mengenalmu dan mencapmu sebagai orang garis keras. Semua dilibas tanpa berkasih-belas. Dari preman sampai anggota dewan, kamu lawan. Kamu itu GIE versi masa kini. Idealismemu tak laku di pasaran karena terlampau mahal-tak ada yang sanggup membeli. Aku salut!.

Ahok! Kamu memang keras, tak bosan membuat telinga orang panas. Ulahmu di Kepulauan Seribu waktu itu adalah yang paling sensasional. Orang-orang penghuni jagat raya ini ikut nimbrung ngobrolin kamu. Tak hanya di Indonesia tapi di luar negeri. Ya! Bukan hanya media nasional yang ribut soal kamu tapi media internasional pun kepo nya bukan main. Ini bukti kamu luar biasa, Pakde Jokowi pun kalah populer sama kamu. Ah! Aku jadi berpikir “jangan-jangan alien di planet Mars pun lagi ngobrolin kamu”. Aku salut!.

Ahok! Andai (dulu) kamu memilih jadi pengusaha saja, mungkin tak ‘merepotkan’ banyak orang seperti sekarang. Bahkan orang-orang harus berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta demi ‘menyebut-nyebut’ namamu. Bahkan Pakde Jokowi pun harus turun tangan ke Monas hujan-hujanan. Bukan hanya mereka yang repot tapi kamu juga. Mau kampanye kesana DITOLAK, kesini DITOLAK. Kamu ini keras tapi pemikir yang nyantai, tak ambil pusing. “Ditolak ya sudah. Nggak dipilih ya nggak papa”. Kamu tak perlu janji program bagi-bagi uang, kamu tak perlu lompat moshing, kamu tak perlu menyandra program pemerintah untuk mengemis suara rakyat. Bahkan yang ada malah sebaliknya, banyak warga berswadaya mengumpulkan dana dan menyerahkan KTP nya hanya untukmu. Istri Hoegeng pun sampai berkirim surat untukmu sebagai pengakuan dan penghargaan atas kejujuranmu. Kenyataan terbalik seperti ini sungguh sulit diterima oleh penikmat ‘lebaran kuda’. Saking sulitnya sampai bikin geger otak mereka. Aku salut!.

Ahok! Kamu itu keras, benar-benar keras. Didemo besar-besaran pun kamu tetap kerja seperti biasa. Ah! Seperti Pakde Jokowi banget. Didatangin tamu yang katanya 7 juta orang, malah blusukan. Ah! Dasar tukang kerja. Pokoknya kerja kerja kerja.

Ahok! Kamu itu keras, tapi tetap saja kamu itu manusia. Maka pantaslah jika kamu menangis saat membacakan pembelaanmu. Bagi mereka yang punya hati, bagaimana mungkin tak terenyuh saat melihat kekejaman ini. Orang yang berjuang melawan nasionalis berjiwa kolonialisme itu disidang untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang tak dilakukannya. Tak ada alasan yang masuk akal bahwa kamu berniat dan melakukan penistaan agama. Emang dasar mereka yang sudah menelan racun mentah-mentah. Seorang doktor sekaligus cendekiawan muslim, Buya Syafi’i pun dicaci maki habis-habisan. Sari Roti pun diboikot. Kenapa tak sekalian produsen mobil mewah rizieq diboikot? Sungguh aksi tak kenal nalar. Jadi apapun yang kamu lakukan akan tetap salah dimata mereka yang notabene sedang keracunan akut.

Ahok! Kamu sudah cukup berjiwa besar. Sebelum fatwa MUI diteken, kamu sudah minta maaf. Kemarin pun kamu minta maaf (kesekian kalinya). Dan di meja hijau kamu membacakan pembelaanmu sambil menangis. Cukup! Cukup sudah usahamu. Jika negara ini benar menjunjung tinggi keadilan, maka akan ada keadilan buat pejuang sepertimu. Dan tak ada perjuanganmu yang sia-sia.

Ahok! Kamu itu konsisten dengan keberanianmu. Berbeda dengan si rizieq dan 7 juta massanya yang sampai minta bantuan seorang Presiden untuk menangkap dan menahanmu. Padahal lebih masuk akal jika kamu yang minta bantuan Pakde Jokowi. Kamu dekat dengan beliau dan punya prinsip dan etos kerja yang sama. Tapi kenapa kamu tak melakukannya? Karena kamu pemimpin yang baik. Menghargai penegakan dan proses hukum yang berjalan. Bahkan sebelum kamu ditetapkan sebagai tersangka pun kamu berinisiatif mendatangi Mabes Polri untuk segera diperiksa. Aku salut!

Ahok! Aku memang tak bisa menyumbangkan suaraku di April nanti. Tapi aku berharap tulisanku ini dapat menyadarkan mereka yang lagi keracunan akut dan mengedukasi mereka yang masih polos, newbie sok militan.

Ahok! Tahukah kamu? Aku ini bukan penulis. Aku benci pelajaran Bahasa Indonesia sejak duduk di bangku SMP. Tapi kenapa aku menulis? Mungkin jawaban yang sama untuk pertanyaan kenapa Bruce Wayne memilih kembali menjadi Batman setelah vakum selama 8 tahun?

Ahok! Kamu tahu kenapa Batman bertopeng? Karena ia mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang disayanginya. Tapi kamu tak memerlukan topeng. Kamu lebih hebat dari Batman. You are the real superhero. I am proud of you.

Andai ada yang lebih diharap-harap selain keadilan, maka itu salamku.

Salam…

 

Surat terbuka Suhindro Wibisono

selengkapnya
HeadlineTulisan

Pengembang Juga Ahok Marahi

basuki-tjahja-purnama

Maaf saya bukan tim sukses Pak Ahok dan bukan bermaksud kampanye.

Tapi ini KLARIFIKASI atas fitnah dan tuduhan bahwa program pemerintah DKI hanya untuk orang Tionghoa saja. Ini dikarenakan beredarnya tulisan dari seorang tokoh yang menulis soal kebangkitan Nasionalis Tionghoa (untuk memecah belah rakyat dengan SARA, pendatang vs asli)

Kebetulan saya adalah Kepala Projek RPTRA Cipinang Besar Utara (Cibesut) karena perusahaan tempat saya kerja “dipalak” oleh Pak Ahok untuk menyumbang, membuat RPTRA dan supaya tidak ada kecurigaan uangnya dikorupsi maka kepala projeknya dari swasta, semua supplier ditender, uang langsung dari perusahaan, lurah dan PKK Cibesut hanya mendukung persiapan lokasi, persiapan mental rakyat, team pengurus dan penanggung jawab kebersihan.

Sebagai kepala projek, kami dikasih batas waktu, kualitas pekerjaan dicek, plan dievaluasi berkali kali! Taman herbal, ruang laktasi berAC, ruang klinik beranjang intl, ruang serba guna, perpustakaan, amphiteatre mini, lapangan futsal standart internasional.

Hasilnya adalah RPTRA berkualitas tinggi, dipadati masyarakat belakang penjara tiap hari!

Lurahnya profesional, timnya bersemangat tinggi dan biaya pemeliharaan ditanggung perusahaan sampai dengan 6 bulan.Yang berkunjung ke sana dari USA, Aussie, Singapore dan universitas-universitas terkenal.

Fasilitas lengkap yang ada di RPTRA Cipinang Besar Utara untuk balita, anak, dewasa sampai dengan lansia dan kaum difable sbb: tempat bermain anak, taman herbal/toga, kolam gizi, ruang perpustakaan, ruang serbaguna untuk pelatihan, ruang PIK pusat informasi konseling anak muda, ruang laktasi dan pelayanan kesehatan, ruang pengelola RPTRA, toilet anak dan dewasa (juga dirancang bisa digunakan warga disabilitas), lapangan futsal standar nasional (bisa digunakan juga kegiatan senam), tempat refleksi bagi lansia.

Ada kegiatan juga di RPTRA Cipinang Besar Utara. Misalnya kegiatan belajar anak putus sekolah, kejar paket A, paket B dan paket C bagi anak anak putus sekolah di warga Kelurahan Cipinang Besar Utara.

Btw, manusia tidak ada yg sempurna. Owner saya pernah dimarahin saat saya bawa beliau makan malam dalam rangka persiapan serah terima RPTRA.
Kenapa? karena topiknya RPTRA tapi owner saya berusaha bahas perizinan hal lain. Pak Ahok memang “ngga pandang bulu”: orang kaya, orang top, orang miskin kalau salah pasti diomelin. Tapi bagi yang tidak suka Pak Ahok yang ditampilkan ya saat Pak Ahok marah marahin ibu yang ngawur soal tunjangan gratis anak sekolah, tidak ditampilkan Pak Ahok marahin owner, pengembang-pengembang, pelanggar pelanggar IMB, memalak perusahaan2 kaya .

Mungkin beliau pernah menolak permintaan aneh seorang mantan ketua partai yg bernasar jalan dari Jogja – Jakarta, marah pada artis yg marah-marah soal jalanan macet gara gara pembangunan MRT, LRT, trotoar , marah marah ke Taipan soal SeaWorld Ancol, marah marahin ketua partai yg mau bangun stasiun tv dll sehingga orang-orang kaya yang biasanya dapat kemudahan hanya dengan menyogok pejabat pakai uang dan semua urusan beres saat ini jadi kesulitan, merasa dipersulit, merasa tidak dihormati sehingga bos-bos besar itu jadi marah, emosi dan balas dendam dengan HOAX

Terima kasih sudah membaca.
Saya juga kesal kalau Pak Ahok suka marah-marah (saya sebagai pimpinan kalau melihat karyawan malas pasti marah besar), omong sembarangan dan TIDAK PANDANG BULU orang kaya, Taipan, Owner, Direktur, PNS, ibu-ibu, nenek-nenek, ulama, pendeta semua dimarahi kalau salah.

DAN ….program lainnya!

1. Kalidjodo bebas preman dan prostitusi untuk siapa? Siapa yang dipalak Pak Ahok untuk bangun Kalijodo jadi RPTRA dan tempat bermain anak muda? Ya, Sinar Mas, perusahaan Cina.

2. Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk siapa?

3. Memberangkatkan pengurus mesjid umroh untuk siapa?

4. Jakarta Utara dibendung supaya Jakarta Timur, Selatan, Pusat tidak banjir, kalau penahan banjir di Jakarta Timur dan Selatan tidak ada laut nya, bego dong kalau bangun disitu.

4. RS Sumber Waras dibeli dengan 4000 bed untuk warga yang sakit kanker dan GRATIS.

5. Pengembang yang beli pulau hasil reklamasi DIPALAK 15 % yang mustinya pajaknya hanya 5 %. Supaya tidak kena 15 %, perusahaan Aguan Bos Cina berusaha menyogok politikus Gerindra, siapa yang ditangkap tangan? Ya presdirnya.

Please, Tolong jangan hoax dan fitnah. Mendukung ya silahkan, asal positif dan adu ide dan hasil kerjanya bagus, tidak korupsi, bersih, jujur.

Drs. Agus Satyawan
Kepala projek
RPTRA Cipinang Besar Utara

Note:
No WA saya 0878-8361-4604
RPTRA dan hasilnya bukan fiktif. Silahkan hubungi saya kalau mau kunjungan, mau main futsal, mau senam, mau jadi guru bimbel dll

selengkapnya