close
nu-tolak-khilafah_2.thumb

Setelah merasa ikut memenangkan pertarungan di Pilkada Jakarta, HTI mulai melangkah lebih jauh. Ahad ini, organisasi yang bertujuan mendirikan khilafah dunia itu –artinya menghapus Indonesia dari peta bumi– langsung tancap gas. Mereka ingin menggelar acara International Khilafah Forum 1438 H.

Gak tanggung-tanggung. Dalam undangan mereka mencantumkan lokasi acara di Balai Kartini, Tebet, Jakarta Selatan. Semua orang tahu, gedung itu milik Yayasan Kartika Eka Paksi, lembaga yang berkaitan dengan TNI-AD.

Dengan digunakannya Balai Kartini sebagai lokasi acara HTI untuk membicarakan soal khilafah, kesan yang ditangkap publik adalah TNI seperti memberi restu pada gerakan HTI ini. Meskipun sesungguhnya mereka hanyalah penyewa gedung.

Untung saja polisi sigap. Polda Metro Jaya menolak mengeluarkan ijin acara tersebut. Tapi HTI rupanya ngotot. Mereka memindahkan acara ke Masjid Az-Zikra, di Sentul. Masjid itu sendiri dikenal sebagai masjid Arifin Ilham.

Rencana permindahan acara ke Sentul juga ditolak PC Anshor Kabupaten Bogor. Penolakan juga disampaikan PWNU Bogor. Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bogor, Kyai Abdullah Nawawi menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Final dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

“Jangan sampai melukai jasa para ulama dan pahlawan yang sudah mati-matian berjuang menegakkan NKRI dengan pengorbanan yang sangat banyak,” ujarnya.

Tapi Wakil Sekretaris MUI Tengku Zulkarnaen berbeda sendiri. Dia justru mendukung acara HTI tersebut. Dia menyesalkan polisi melarang digelarnya acara itu di Jakarta.

Tengku ini memang aneh. Dia adalah pengurus dari MUI. MUI itu sendiri singkatan dari Majelis Ulama Indonesia. Ada kata ‘Indonesia’ di belakang nama MUI. Lalu, ketika ada organisasi internasional yang salah satu tujuannya menghapus Indonesia dari peta dunia, kok malah diberi jalan?

Keberanian HTI menggelar acara terbuka, tidak terlepas dari dukungan orang-orang sejenis Tengku ini. Di berbagai daerah, HTI bahkan sudah masuk sampai ke kampung-kampung. Mereka mencerabut rasa cinta tanah air di kalangan anggotanya. Mereka berusaha menukar kecintaan warga Indonesia pada negaranya dengan konsep khilafah yang utopis itu.

Kenapa utopis? Karena sampai sekarang, jika kita minta satu saja contoh negara modern yang sukses menerapkan khilafah, tidak pernah bisa ditunjukan. Lalu, kita mau mengubah NKRI yang sudah jelas ini, dengan konsep yang contoh keberhasilannya saja tidak bisa ditunjukan? Atau paling-paling mereka meminta kita menengok jaman Utsmaniyah.

Eh, busyet. Dunia sedang bergerak maju, tapi ada orang mau menyeret kita berjalan mundur, kembali ke abad pertengahan lagi.

Hanya orang dungu yang membiarkan orang lain membuat rapat di ruang tamu rumahnya, yang isi rapatnya membicarakan bagaimana cara mengambil alih kepemilikan rumah tersebut.

Semakin berkembangnya HTI di Indonesia memang memandakan banyak orang bodoh yang sukarela rumahnya dijarah orang luar. Sementara orang-orang sejenis Tengku ini menggunakan atribut MUI untuk mempersilakan orang lain menjarah rumah kita. Begitupun Arifin Ilham, yang mempersilakan HTI membuat acara di masjidnya.

“Eh, ada maling. Apa kabar? Mau datang kok, gak ngabarin sih? Ngomong-ngomong rencana mau nyolong apa malam ini? Tuh ada TV, kulkas, dan laptop. HP dan perhiasan ada di lemari. Sok, dipilih. Kalau masih kurang di kamar ada brankas duit juga, loh. Mangga, silakan. Gak usah malu-malu, atuh. Anggap saja di rumah sendiri…”

Kampret, kan?

Eko Kuntadhi