close
Tulisan

Dari Soe Hok Gie hingga Rudi Hartoyo, lalu Ahok

PhotoGrid_1492330033528

Kita tak mempermasalahkan turunan Tionghoa dari Rudi Hartono, Liem Swie King, Ivanna Lie, Christian Hadinata, Alan Budikusuma, Susi Susanti, atau pahlawan-pahlawan olahraga bulutangkis lain yang pernah mengharumkan nama bangsa. Beberapa di antara mereka bahkan berjasa memgibarkan Merah-Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya pertama kali di sana.

Lebih heroik lagi jika kita mundur lebih ke belakang, sebelum masa kejayaan Rudi Hartono dan kawan-kawannya.

Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, dan kawan-kawan masih berstatus mahasiswa yang bertebaran di daratan Eropa. Menggunakan teknologi komunikasi era Perang Dunia II, mereka saling berhubungan satu dengan yang lain, kemudian berkumpul di London, lalu mewakili Indonesia mengikuti pertandingan bulu tangkis tingkat dunia, Thomas Cup.

Mereka berhasil menjuarainya!

***

Siapapun yang menyaksikan detik-detik pertandingannya, berharap cemas. Berdoa khusuk kepada Tuhan masing-masing agar mengabulkan kemenangan bagi pahlawan-pahlawan itu.

Ketika akhirnya diraih, kita pun menitikkan air mata dan tersenyum bahagia bersama mereka. Meski hanya menyaksikannya dari layar televisi dan terpisah jarak puluhan ribuan kilometer dari arena perhelatan berlangsung. Ikatan ‘batin’ saudara sebangsa dan setanah air terasa begitu kuat dan hangat.

Setahu saya, tak satupun pahlawan-pahlawan bulu tangkis yang mengharumkan nama bangsa di atas itu yang beragama Islam.

Kita memang tak pernah — dan tak akan — mempermasalahkannya.

+++

Kwik Kian Gie, sebelum Gerakan Reformasi bergulir, adalah satu dari sedikit pengamat ekonomi yang kritis terhadap Soeharto dan Orde Baru. Tulisan dan analisa-analisanya selalu dinanti. Terutama oleh mereka yang gemas — tapi tak kuasa berbuat — terhadap sepak terjang Soeharto bersama kroni ‘menjarah’ negeri ini. Mereka yang memimpikan terjadinya perubahan.

Saya tak pernah mendengar keluhan tentang garis turunan Tionghoa ‘om’ Kwik Kian Gie. Juga agamanya.

Perubahan itu akhirnya terjadi. Soeharto tumbang dan Kwik yang tergabung di PDIP kemudian menduduki posisi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri di masa kepemimpinan Gus Dur. Lalu sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ketika Megawati naik menjadi Presiden RI kelima.

Tak pernah ada pembahasan serius soal agamanya.

+++

Mira Lesmana dan Riri Riza justru terkesima dengan sosok Soe Hok Gie. Salah seorang Mahasiswa UI yang pecinta alam sekaligus demonstran di zamannya. Ia hidup di masa pergolakan paska kemerdekaan Indonesia ketika militer berkonflik dengan PKI. Ia menghormati Sukarno sebagai founding father Indonesia, tapi sekaligus juga membenci pemerintahannya yang diktator sehingga menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie yang banyak mengetahui ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan berbagai korupsi yang berlangsung di bawah pemerintahan Sukarno, menyuarakannya melalui tulisan-tulisan kritis dan tajam di media.

Mira dan Riri justru memilihnya untuk diangkat ke layar lebar beberapa tahun lalu. Bukan salah satu dari tokoh pergerakan lain yang sebagian diantaranya hidup bergelimang kecukupan hingga 32 tahun masa Soeharto berkuasa. Bahkan hingga hari ini.

Lalu kita pun berbondong-bondong menyaksikan ‘Gie’. Tanpa mempersoalkan agama dan ras turunan dari tokoh itu.

+++

Tapi mengapa Ahok yang juga turunan Tionghoa dan memang bukan muslim, terus saja dipermasalahkan?

Sampai saat ini semua yang dituduhkan padanya semakin benderang sebagai upaya mengada-ada dan penuh fitnah. Berbagai capaiannya yang luar biasa mewujudkan hal-hal yang sebelumnya hampir dianggap mustahil, seperti tak ada artinya.

Berapa puluh tahun Kalijodo — meski terletak di pintu gerbang Jakarta dan mudah terlihat siapapun yg baru mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta — jadi sarang maksiat yang tak tersentuh?

Berapa banyak taman bermain publik yang dikembalikan fungsinya, atau diperbaharuinya sehingga menyediakan ruang mewah bagi masyarakat Jakarta?

Berapa banyak rumah susun yang disediakannya bagi warga yang kurang dan tak mampu?

Sejak kapan ada simpang susun seperti Semanggi yang bisa dibangun tanpa bergantung pada anggaran pemerintah?

Sejak kapan pasar Tanah Abang bisa tertib dan teratur seperti kemarin?

Tak usahlah kita teruskan daftarnya.

+++

Semua yang dilakukan Ahok memang SEMESTINYA mampu dilakoni pejabat dan penguasa Jakarta yang lain. ASALKAN mereka memang berniat dan sungguh-sungguh melakukannya seperti Ahok.

Tapi kenyataannya memang tidak demikian. Lalu mereka (mungkin) CEMBURU. Dengki dan iri hati

Berbeda dengan kemampuan Rudi Hartono, Lim Swie King, dan kawan-kawan. Keahlian mereka memang khusus dan istimewa. Tak mudah digantikan.

Maka kecemburuan itu — yang terus-menerus berkelindan dengan nafsu dan amarah pada dirinya sendiri — menyebabkan mereka yang mestinya bisa menjadi pejabat dan penguasa lebih baik dari Ahok, kalap!

Mereka TERSAINGI sekaligus tak mampu menerima kenyataan. Dan yang lebih menyedihkan, berbagai tipu muslihat dan penyelewengan selama ini, justru (terancam) terbuka.

+++

Mereka yang diliputi kecemburuan dan gelisah terhadap sepak-terjang Ahok memang terlatih, terbiasa, bahkan mungkin terlahir : picik dan licik. Segala daya upaya dikerahkan untuk mempengaruhi masyarakat yang sesungguhnya tak memahami kerunyaman persoalan yang sedang dan perlu diselesaikan. Agama dan keimanan — hal yang sesungguhnya tak berkait sama sekali — digiiring untuk menebar kebencian. Lalu beramai-ramai mereka mengumandangkan keyakinan bahwa memilih Ahok adalah sebuah kekeliruan beriman. Memilih dan mengangkatnya sebagai kepala daerah merupakan hal yang tak dikehendaki Tuhan!

Zat Abadi yang Maha Kuasa lagi Maha Berkehendak itu pun dicatut di sana-sini. Bagi sebagian masyarakat yang kurang — atau belum — beruntung menimba dan mengembangkan pemahaman maupun ilmu pengetahuannya, hal tersebut menyebabkan mereka mudah terhasut. Lalu kita terpecah, bahkan bertikai, satu dengan yang lain hingga mengabaikan pertemanan bahkan persaudaraan sekalipun.

Kabut tebal kemudian menyelimuti mata-hati sehingga hal-hal yang dipersembahkan Gubernur keturunan Tionghoa yang non Muslim tapi berhati mulia itu, tak lagi dihargai sebagai sesuatu yang bermakna bagi kemanusiaan dan kehidupannya yang fana.

+++

Seorang Basuki Tjahja Purnama alias Ahok tetaplah manusia. Ia mungkin saja berkhianat dan mencelakai yang lain. Seperti Gayus Tambunan. Oknum pajak yang terlibat skandal raksasa memperkaya diri meski sudah diberi kejahteraan jauh lebih tinggi dibanding aparat pemerintah sekelasnya yang lain. Atau seperti almarhum Ramlan Butarbutar yang terlibat perampokan sekaligus pembunuhan pada rumah mewah di kawasan Pulomas, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Tapi bagaimanapun, kita tak boleh melabelisasi orang Batak sebagai koruptor atau pembunuh yang sadis. Begitu pula terhadap saudara-saudara kita yang keturunan Tionghoa. Tak boleh kita generalisasi sebagai kelompok yang gemar menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadinya.

Mengapa kita tak kunjung mampu untuk beranjak dewasa menerima perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan sebagai anugerah Allah SWT semata?

— seperti harapan, sukacita, dan kebahagiaan kita pada Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudi Hartono, Liem Swie King, Ivanna Lie, Christian Hadinata, Susi Susanti, maupun Alan Budikusuma ketika bertarung mengharumkan nama bangsa diajang dunia.

***

Kita tak perlu ragu mengakui betapa Raja Faisal dari Arab Saudi yang telah dihormati secara berlebihan ketika berkunjung kemarin itu, nyatanya hanya memandang bangsa ini sebagai ladang pengembangan usaha pemasaran kekayaan alamnya semata.

Komitmen investasinya di Indonesia yang sebagian besar diperuntukkan bagi pengembangan kilang yang akan mengolah minyak mereka untuk kemudian kita konsumsi, hanya berjumkah USD 6 miliar. Lebih kecil dibanding janjinya pada kilang Malaysia yang bernilai USD 7 miliar.

Jumlah tersebut sama sekali tak sepadan jika dibandingkan dengan Cina yang mencapai USD 65 miliar. Bukan hanya untuk membangun refinery, tapi juga produksi pipa termoplastik, drone, meteran elektrik, industri petrokimia, teknologi informasi, energi terbarukan, hingga pusat pelatihan dan pembiayaan ekspor.

Artinya — belum ada keunggulan lain yang menarik minat negara yang ‘seiman’ dengan mayoritas masyarakat kita itu, selain potensi pasar dari produk yang dimilikinya. Kita masih terlalu jauh menganggap diri sebagai mitra yang layak dan mampu diajak beriring, saling melengkapi, dan saling menguntungkan untuk mengembangkan gagasan maupun menggarap peluang bersama.

Silahkan bertakbir sampai serak. Tak mungkin semua itu berubah jika tak dimulai dari sikap dan prilaku kita yang — maaf — masih tergolong barbar hingga hari ini.

Jilal Mardhani, 16-4-2017