close
HeadlineTulisan

Sukmawati Soekarno Putri: Provokasi di Mesjid Sangat Mengkhawatirkan

IMG-20170320-WA0056

Jakarta – Ketimpangan sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi penyebab munculnya radikalisme di Indonesia, kata Nuning Kertopati, Pengamat Militer dan Intelejen yang juga mantan anggota DPR FRAKSI HANURA, dalam sebuah diskusi yang bertemakan ‘Menelaah Potensi Radikalisme Di Pilkada DKI Jakarta’, Senin, 20 Maret 2017, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

“Sangatlah malu ketika kejadian ini dilihat oleh orang di luar negeri. Khususnya melihat pilkada DKI yang persaingannya sudah di luar dari koridor demokrasi,” ujar Nuning.

Lebih jauh Nuning mengingatkan masalah ini adalah sebuah PR besar bagi bangsa ini untuk mengembalikan keindonesiaan kita.

Melengkapi pendapat Nuning, Pengamat Kebijakan Publik Wilter Silitonga mengatakan bahwa Pancasila yang berisi nilai-nilai tradisional bangsa ini, seperti nilai utama toleransi, gotong royong, adalah nilai-nilai yang harus dijaga.

“Sesungguhnya nilai radikalisme tidak ada dalam Pancasila. Akan tetapi nilai tradisional tersebut mulai terkikis, dan tergantikan dengan wajah pilkada DKI Jakarta yang tidak masuk di akal sehat kita, “imbuh Wilter.

Dalam persaingan Pilkada DKI munculnya isu primordial wajar saja akan tetapi sayangnya tidak menjadi pendidikan politik yang baik buat generasi penerus bangsa, ucap Boni Hargens, pengamat politik.

Boni mengingatkan jangan cepat percaya kepada orang dan kelompok orang yang seolah mempejuangkan Pancasila. “Ada partai yang anggaran dasarnya berdasarkan Undang Undang 45 dan Pancasila yang diserahkan ke Menhumkam, sementara coba cek ke kantornya, anggaran dasarnya yang lainnya berdasarkan syariah, silahkan cek ke kantornya,” kata Boni.

Sementara itu Syafiq Alieha, Intelektul Muda NU, menyarankan ketika melihat jargon-jargon politik yang diusung kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam, jangan lantas kita diam apalagi tertidur. Sebab jika kita tertidur artinya tidak mempertahankan keIndonesia kita. Ini sangat berbahaya.

Syafiq menegaskan, karena sebuah nation tidak berhenti sampai di situ, sebuah entitas bangsa dinamis. Kalau kita tidak menjaganya bisa saja kita bernasib seperti Iraq dan Syuriah.

Syafiq mengingatkan, jargon NKRI Bersyariah tidak lain wujud dari Ikhwanul Muslimin yang ingin menghidupkan kembali ‘Piagam Jakarta’, yang sesungguhnya oleh para pendiri negeri ini sudah ditiadakan berdasarkan konsensus bersama.

Pembicara yang lain yaitu Sukmawati, salah satu putri Proklamator Soekarno, mengatakan kita harus belajar sejarah bangsa ini agar keIndonesian kita tetap terjaga. Sebab menurut Sukma, negeri ini didirikan atas dasar kebangsaan bukan berdasarkan agama.

Sukma mengajak kita melihat bagaimana Pilkada DKI Jakarta diwarnai provokasi-provokasi yang dilaksanakan di beberapa Masjid di Jakarta yang cukup menghawatirkan.

“Banyak orang yang ketika Rizieq Shihab berorasi berteriak amin amin, seolah apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Sampai-sampai Pancasila pun dilecehkan dan menjadi bahan tertawaan. Ini jelas karena mereka tidak belajar tentang sejarah bangsa ini, “tutup Sukmawati. (Komkil)