close
14DYLANHOME2-master675

Jakarta – Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat prihatin isu suku, agama, ras dan antar golongan alias SARA masih saja berkembang di tengah masyarakat di putaran kedua Pilkada DKI. Hal ini ditemukan saat dirinya berkeliling ke sejumlah lokasi di Jakarta.

Djarot sempat mampir ke daerah Galur dan Kemayoran, Jakarta Pusat. Di kedua wilayah itu, isu SARA masih sangat kental. Belum lagi, khotbah Jumat yang isinya masih seputar SARA.

“Saya mohon lah jangan digoreng-goreng isu bernuansa SARA untuk pilkada di Jakarta. Ini tidak baik, tidak sehat, biar lah warga menentukan pilihannya dengan nyaman di TPS,” kata Djarot di kawasan Menteng, Jakarta, seperti dikutip Liputan6.com, Sabtu 18 Maret 2017.

Lebih dari itu, Djarot juga mendapat informasi adanya ancaman kepada warga bila tidak memilih pasangan tertentu.

Hal ini tentu menjadi tekanan tersendiri bagi warga. Padahal, kata Djarot, pilkada seharusnya berjalan dengan damai dan tanpa paksaan.

“Saya juga mendapat informasi ada warga yang mendapat ancaman tidak akan bisa lagi berjualan kalau tidak memilih pasangan tertentu, ada warga yang harus bikin surat pernyataan kalau jenazahnya mau diurus, itu tidak boleh,” kata Djarot.

Seperti diketahui, sebelum dicopot oleh Satpol PP DKI, spanduk larangan pensalatan jenazah bagi pendukung Ahok-Djarot marak di mesjid dan musala. Bahkan, spanduk itu telah memakan korban dua orang.

Pertama, kasus nenek Hindun yang jenazahnya ditolak disalatkan di musala karena semasa hidup nenek Hindun memilih Ahok-Djarot.

Jenazah nenek Hindun yang berusia 78 tahun ditelantarkan oleh masyarakat sekitar. Sebabnya, sang nenek yang sudah tak bisa berjalan sejak lama itu memilih Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat saat Pilkada DKI putaran pertama.

Menurut keterangan Neneng, anak nenek Hindun, usai ibunya yang bernama Hindun bin Raisman itu mencoblos Ahok-Djarot, keluarganya menjadi pergunjingan. Neneng adalah putri bungsu Hindun.

“Kami ini semua janda, empat bersaudara perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang yang kayak gitu, kami bener-bener dizalimi, apalagi ngurus pemakaman orangtua kami aja susah,” ujar Neneng, anak nenek Hindun, kepada Liputan6.com di kediamannya, Jalan Karet Raya II, Setiabudi, Jakarta Selatan, 10 Maret 2017

Neneng menceritakan kronologi jenazah ibundanya ditolak disalatkan di musala oleh Ustaz Ahmad Syafii. Neneng mengatakan, saat itu dia dan keluarganya ingin agar jenazah Hindun disalatkan di musala.

Namun, ditolak oleh Ustaz Ahmad Syafii lantaran tidak ada orang di musala. Selain itu, tak ada orang yang menggotong jenazah Hindun ke musala, sehingga Ustaz Ahmad Syafii mensalatkan Hindun di rumahnya.

“Alasannya, enggak ada orang yang mau nyalatin (di musala), padahal kami ini anak dan cucunya ramai menyalatkan, tapi memang orang lain (warga lain) cuma empat orang (yang datang ke rumah),” terang Neneng.

Ustaz Ahmad Syafii, yang mensalatkan jenazah Nenek Hindun, menjelaskan duduk persoalan yang kemudian menjadi buah bibir warga tersebut.

“Perkaranya itu bukan karena milih Ahok, bukan enggak disalati, saya yang ngimami, saya yang bantu talqin (melepas arwah orang yang kritis dengan kalimat tauhid) kan 24 jam sebelum Nenek (Hindun) meninggal,” terang Ahmad Syafii di rumahnya, yang persis berada di depan sebuah spanduk penolakan menyalati jenazah pendukung penista agama.

Kasus kedua menimpa Yoyo Sudaryo (56), seorang warga RT 05/02 Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, dipaksa menandatangani surat pernyataan untuk memilih pasangan calon gubernur muslim yakni Anies-Sandi pada hari pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran dua yang akan datang.

Hal itu wajib dilakukan Yoyo jika ingin jenazah mertuanya, Siti Rohbaniah (80), disalatkan oleh pengurus salah satu masjid di Pondok Pinang. Yoyo dan keluarganya dituding sebagai pendukung paslon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

“Kamis pagi udah rapi mau dikafani, dimandiin, nggak ada masalah. Siangnya pas mau disalatin saya disuruh tanda tangan, yang bikin tulisannya Pak RT. Isinya bahwa saya berjanji akan mendukung pasangan Anies-Sandi di putaran dua nanti. Ada meterainya juga,” ungkap Yoyo, Jumat pekan lalu, seperti dikutip Warta Kota.

Karena tak tega jenazah sang ibu mertua terbengkalai, dia pun akhirnya membubuhkan tandatangan di atas selembar kertas itu.

“Awalnya sih, saya nggak curiga, lagi kesusahan nggak nyangka nggak mau disalatin. Menurut saya mau pilih siapa itu urusan saya sama Tuhan. Tapi yang penting ibu saya disalatin,” bilang Yoyo.

Beberapa saat, setelah Yoyo mengguratkan tandatangannya, barulah jenazah ibu mertuanya disalatkan dan akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Dikatakan Yoyo, sebenarnya dia dan keluarganya tidak pernah mengungkapkan sebagai pendukung pasangan calon tertentu.

Bahkan, sang ibu mertua tidak ikut memilih dalam putaran pertama 15 Februari lalu karena sudah uzur.

“Saya dari dulu siapapun gubernurnya kampanye nggak pernah ikut, nempel poster juga nggak. Bahkan, saya menolak ada poster pasangan manapun di rumah saya. Makanya saya heran sampai begini,” katanya.

Yoyo mengakui, dia memang pernah bergurau dengan tetangga-tetangganya seputar persaingan paslon Anies-Sandi dan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI, kali ini.

“Saya memang kadang berkelakar ke tetangga. Saya bilang, saya nggak pilih Ahok karena dia Kristen, sementara saya Islam. Lalu, tetangga tanya, terus pilih siapa? Pilih Djarot, kata saya gitu,” ungkap Yoyo.

Tags : djarot prihatin isu saraintimidasi bagi pendukung ahok-djarotisu SARA di pilkada dkilarangan salat jenazah pendukung ahok-djarot
'