close
HeadlineTulisan

Pengajian Damai Pilkada: Siapa Penenun Kebangsaan Sejati?

IMG-20170318-WA0021

Jumat, 17 Maret 2017, jam 19.30 WIB. Ketika GrabBike saya merapat di Klaster Melati 2, di Rusun Bumi Cengkareng Indah, wilayah Cengkareng Timur, ratusan perempuan dan laki-laki serta anak-anak warga Rusun sudah duduk santai sambil mendengarkan ceramah seorang Ustadz. Rupanya acara pengajian udah dimulai beberapa menit yang lalu tanpa menunggu saya.

Bu Sari dan Rahayu berinisiatif memulai acara ini karena warga sudah kumpul. Saya senang orang-orang ontime. Letak Rusun yang cukup jauh dari Stasiun KRL Rawa Buaya membuat ojek online yang saya tumpangi harus nyasar beberapa kali. Tapi tak apalah, itu semua terbayar dengan antusiasme warga yang luar biasa.

Memenuhi pelataran diantara dua bangunan rusun, warga duduk hikmat diatas alas terpal yang disediakan panitia. Jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki. Seperti biasa, acara pengajian sering diidentikkan dengan perempuan. Semoga bukan karena kepercayaan bahwa penghuni neraka banyak perempuan. Tapi karena perempuan adalah madrasah pertama bagi anak sehingga penting buat perempuan menerima input nilai-nilai baik. Salah satunya adalah menghadiri pengajian yang berorientasi pada penguatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sound System cukup bening malam ini. Terbukti suara berat Ustads Ust. Ir. Jakfar alkatiri, peranakan Menado dan Arab ini lantang menembus dinding-dinging pembatas kamar-kamar di Rusun. Kulihat juga banyak warga yang enggan turun, mereka mendengarkan dari dalam kamar. Udara sangat cerah dan sedikit gerah karena wilayah Jakarta Barat lebih gersang dibandingkan Jakarta Selatan. Bu Sari, salah satu tokoh perempuan di Rusun ini menceritakan kalau dirinya sudah menghuni Rusun ini sejak 1997. “sejak saya SD kelas 3, sampai anak saya sekarang sarjana semua,” senyumnya melebar sebagai ekspresi syukur.

Saya hadir bersama suami, Radjo Lenggang Realino Nurza sebagai komitmen mengawal Pilkada jujur, adil dan damai. Juga ada kawan Nining Rahayu yang punya komitmen sama. Saya senang sekali komitmen menciptakan Pilkada damai juga dipegang oleh banyak pihak. Salah satunya adalah Ustadz yang bertugas semalem. Dengan suara lantang Ustadz memberikan wejangan-wejangan tentang pentingnya menjaga persatuan. Saya tertarik mengutip sekilas isi ceramah yang disampaikan semalem dalam acara pengajian. Berikut cuplikannya:

“…Pilkada itu sifatnya sementara, hidup bertetangga itu jangka panjang. Jangan gara-gara beda Nomer Pilihan dalam Pilkada lantas tidak bertegur sapa dengan tetangga. Atau yang lebih parah mengancam-ngamcam dengan tuduhan kafir atau tidak disholati jenazahnya jika memilih nomer tertentu….Kita boleh menarik simpati pemilih, tapi tidak dengan mengubah fiqih dan menyebarkan pemahaman yang salah akan ajaran Islam… Jadi, tanggal 19 April nanti ibu-ibu dan bapak-bapak harus hadir mencoblos…coblos apa?….coblos sesuai dengan HATI NURANI ibu-bu dan bapak-bapak…”

Begitu sekilas cuplikan ceramah yang kira-kira berlansung 45 menit. Saya yakin sekali ceramah-ceramah teduh begini banyak dilakukan di pengajian-pengajian yang digelar oleh para pendukung BaDja. APAKAH MODEL CERAMAH SEJUK JUGA DILAKUKAN OLEH PENDUKUNG SEBELAH?

Saya akan bagi jawabanya jika saya berhasil melakukan penelusuran di lapangan. Yang jelas, jika bicara tentang “tenun kebangsaan”, maka saya udah bisa katakan siapa sejatinya PENENUN-nya? Mereka yang memiliki komitmen Pilkada ini tidak berakhir pecah-belah. Mereka yang tidak menggunakan jurus “kampanye hitam” menjual ayat-ayat agama. Mereka yang tidak mengaburkan ajaran Islam tentang memilih pemimpin duniawi seperti Gubernur berbeda dengan pemimpin imam sholat. Mereka yang konsisten mensholatkan warganya yang meninggal meskipun beda pilihan politik. Mereka yang berjuang untuk utuhnya NKRI dan melawan kehadiran Khilafah dan sejenisnya di bumi Indonesia. Termasuk Jakarta. #PengajianDamaiPilkada

Saya dan suami senyum-senyum sepanjang jalan mendengarkan celoteh supir GrabCar yang bicara banyak tentang MENGAPA DIA MEMILIH AHOK MESKI DITENTANG ORANG TUANYA. Dia juga berjuang agar semua warga yang punya hak pilih benar-benar mendapatkan kesempatan.

Dia bilang “tahu gak bu kalau di Jakarta Barat ini banyak kecurangan di KPPS. Saya tahu karena saya ketuanya dan kami berusaha bikin KPPS jujur, gak kaya yang lain yang pura-pura kehabisan suaralah, gak sesuai persyaratanlah…macem-macemlah. Perjalanan 1 jam dari Cengkareng Timur ke Rumah tak terasa. “Selamat Berjuang ya Pak” sambil aku menutup pintu mobilnya.

Ruby Khalifah

'