close
HeadlineTulisan

Jenazah Ibu Hindun yang Ditolak Disolatkan di Mushola (bagian 1)

IMG-20170310-WA0048

Jumat siang saya membaca berita tentang seorang nenek yang ditolak disholatkan di mushola dekat rumahnya karena di pilkada kemarin pilih Basuki Tjahaya Purnama, atau akrab disapa Ahok.  Lihat di sini beritanya.

Di putaran kedua pilkada Jakarta ini memang sudah banyak bertebaran spanduk di mesjid, mushola dan tempat terbuka lainnya yang isinya menolak mensholatkan jenazah yang semasa hidupnya dukung dan pilih penista agama. Istilah penista agama pasti semua sudah mafhum bahwa itu merujuk ke Ahok, calon gubernur no. 2 di Pilkada Jakarta.

Setelah membaca berita itu saya kirim ke grup WhatsApp yang saya ikuti namanya Tim Advokakasi Relawan BaDja untuk dicek apakah ini hoax atau benar. Kenapa saya minta cek tentang berita tersebut karena selama ini sudah banyak tersebar isu-isu tentang hal tersebut dan ternyata hoax.

Saya mengerti bahwa isu-isu tersebut sengaja dihembuskan untuk meneror pendukung Ahok. Tak hanya di spanduk, juga disebarkan semua teror itu dalam pidato-pidato di Mesjid, leaflet, di twitter, facebook dan lain-lain. Selain menolak mensholatkan jenazah juga dibilang muslim yang memilih Ahok itu juga disebut munafik, kafir. Bahkan sudah beredar pula himbauan agar jenazah pendukung Ahok dibilang bangkai, bukan mayat.

Itu semua buat saya adalah teror agar pendukung Ahok jadi takut memilih. Di kalangan bawah, Siapa yang ngga takut kalo ketika meninggal tidak disholatkan? Siapa yang ngga takut dibilang munafik, kafir dll? Inilah yang saya sayangkan kenapa soal agama ini dicampur adukkan dengan pilkada sekarang. Benar-benar pembodohan terhadap rakyat. Benar-benar deh Pilkada Jakarta sekarang riuh banget dengan urusan agama.

Setelah ada tanggapan dari salah satu Tim advokasi yang bilang bahwa kasus ibu Hindun itu benar adanya, saya pun ingin melayatnya sekalian ingin dengar langsung cerita soal penolakan itu. Serius ketika dibilang bahwa itu benar, saya menangis, sedih banget.

Maka saya pun kontak Renny Fernadez yang juga punya rencana yang sama untuk melayat ke Ibu Hindun. Maka kami pun janjian pergi bareng ke Rumahnya di daerah Karet Karya 2 wilayah Setiabudi.

Singkat cerita, saya dan Renny pun menemukan rumah almarhumah Ibu Hindun. Rumah yang sangat sederhana sekali, masuk gang kecil. Ketika kami datang, anak-anak almarhumah sedang berkumpul. Ada bu Neneng, Bu Arnisah, Bu Oci dan Bu Sudarsih. Keempat ibu ini merupakan anaknya Ibu Hindun yang semuanya sudah ditinggal suaminya.

Saya langsung menyampaikan maksud kedatangan kami. Saya bilang, kami datang ke sini karena membaca berita tablod bintang dan bertanya apa betul kejadian yang menimpa ibu Hindun bahwa ditolak disholatkan di mushola? Saya ngga sampai selesai bicara karena saya mau nangis. Melihat saya ngga bisa bicara karena mau nangis, Renny meneruskan perkataan saya. Renny bilang maksud kedatangan kami ke sini ingin melayat, ikut berduka cita atas meninggalnya ibu Hindun. Kami juga sedih membaca kalo jenazah ibu Hindun ditolak disholatkan di mushola.

Bu Neneng, bu Oci dan bu Arnisah semuanya terdiam. Sepertinya mereka semuanya tercekat melihat saya menangis dan ucapan Renny yang sepertinya membuat keluarga ini menjadi terharu. Anak bu Neneng satu-satunya namanya Reval memandangi ibunya. Juga hadir cucu bu Sudarsih masuk dari rumah samping yang memang menyatu dengan rumah yang ditinggali ibu Hindun bersama dengan Neneng dan anak satu-satunya. Ibu Oci tinggal di Depok sementara Ibu Arnisah rumahnya di Lenteng Agung. Tapi sejak dua bulan ini karena ibunya sakit, ibu Arnisah dan bu Oci tinggal bergantian jagain ibunya karena ibu Neneng setiap hari bekerja sebagai PHL di Taman Karet Bivak.

Suasana di ruang tamu yang sekaligus ruang makan dan kumpul keluarga ini jadi bertambah semarak karena anak-anak bu hindun. Akhirnya kemudian bu Neneng mulai cerita:

Setelah sakit cukup lama, ibu saya, Hindun binti Raisman, meninggal dunia di usia 78 tahun pada Selasa (7/3) lalu jam 13.30. Ibu saya sakit pengapuran dan juga mungkin udah usia. Sebulan yang lalu ia mendapat kursi roda dari pak Ahok karena kami mengajukan ke beliau. Akhirnya dikasih ama Pak Ahok kursi rodanya. Kebetulan menantu anaknya Bu Sudarsih jadi relawan Pak Ahok dan sering datang ke Rumah Lembang.

Ketika ibu menutup matanya yang terakhir, saya tak di sampingnya, saya masih di tempat kerja. Yang di samping ibu saya waktu itu kakak saya, ibu Arnisah. Ia menelpon saya dan bilang ibu meninggal, itu pun setelah cari telpon untuk nelponin saya. Waktu pagi sebelum saya berangkat memang ibu seakan-akan menghalangi saya untuk berangkat kerja, ia terlihat menggeleng-gelengkan kepala ketika saya pamit mencium tangannya. Saya ngga punya firasat apa-apa makanya saya tetap berangkat kerja karena kalau bolos sayang dipotong ongkos kerjanya sehari Rp 160 ribu, kan lumayan.

Waktu saya mendapat telpon dari kakak jam 13.30 itu yang bilang ibu meninggal, saya langsung pulang. Sampai di rumah sekitar jam dua kurang, saya bersama kakak-kakak mengurus pemandiannya. Saya juga pontang panting urus sendiri surat kematian dan pemakaman untuk ibu saya.

Waktu mengurus surat-surat ngga ada pak RT, yang terima sekretarisnya. Katanya RTnya sedang kerja. Bahkan mobil ambulance pun ditawari oleh RW sebelah karena RT saya ngga menawarkan itu. Tempat pemakaman untuk ibu saya pun karena untungnya saya kenal dengan kepala pemakaman Karet akhirnya ibu saya bisa dimakamkan di situ dengan ditumpangkan di atas bapak saya.

Nah, ketika ibu udah selesai dimandikan, rapih dikafanin dan siap untuk disholatkan, saya datang ke Pak Ustadz yang ngurus mushola yang berada dekat rumah. Namanya Mushola Al Mukminun. Dulu, bapak saya pun waktu meninggal disholatkan di mushola itu. Saya bilang ke Pak Ustadz kalo ibu saya sudah siap disholatkan di mushola. Keluarga saya pun udah siap untuk menyolatkannya di mushola itu. Tapi saya sedih sekali ketika mendengar kata-kata Pak Ustadz. Begini kira-kira dia bilang, “Enggak usah, Neng, mending di rumah aja percuma enggak ada orang’. Begitu katanya.

Saya ini bodoh, kak, begitu mendengar omongan Pak Ustadz begitu meski saya sedih karena ibu saya ditolak di mushola itu, ya saya terima aja. Apalagi Pak Ustadz juga menjadi imam yang nyolatin ibu saya di rumah. Jadi saya dan keluarga terima saja. Akhirnya ibu saya disholatkan di ruangan ini oleh 13 orang dari keluarga termasuk 3 dari warga, dibikin 3 baris supaya afdhol kata ustadznya. Sekarang ibu saya udah dimakamkan dengan tenang, begitu kata Bu Neneng dengan bergetar mengakhiri cerita panjangnya.

Saya dan Renny hanya bisa mendengar cerita bu Neneng tanpa sedikit pun berani memotongnya. Setelah mendengar cerita panjang bu Neneng, saya bilang: semoga Ibu Husnul khotimah ya, alfatihah.. kami mengucapkan alfatihah bersama-sama.

Sesaat suasana hening di ruangan ini, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing..

Tiba-tiba Ibu Arnisah cerita, kami ini orang bodoh kak. Kami ngga mau ribut, kami juga takut. Masuk media ini gara-gara besoknya ada keluarga kami yang terima WA yang isinya ada meme pocong yang ditolak disholatkan di mesjid dan himbauan katanya Haram untuk menyolatkan orang yang pilih Ahok. Nah, mushola yang nolak ibu kan ada spanduk penolakan jenazah gitu juga. Udah gitu sebelumnya Pak Ustadz dan Pak RT juga sempat bilang ke salah satu keluarga kami kalo ibu Hindun itu ngga boleh disolatkan di mushola karena pilih penista agama, katanya. Di situ kami sedih dan merasa terusik lagi. Terus kebetulan ada bekas mantu saya ikut melayat dan dengar cerita penolakan ini. Dia bilang punya teman wartawan. Kami diminta diceritakan soal mushola yang nolak nyolatin ibu kami. Jadi ya kami akhirnya cerita apa adanya seperti yang kami ceritakan ke kak Nong ini.

Begitulah Ibu Arnasih dan Ibu Oci gantian bercerita.

Kami konfirmasi ke pihak keluarga, apakah benar ibu Hindun memilih Ahok waktu Pilkada kemarin? Gimana tahunya kalau ibu Hindun pilih Ahok?

Lagi-lagi ibu Neneng yang menjawab dan membenarkan kalo ibu Hindun pilih Ahok.

Begini ya kak, ibu Neneng memulai ceritanya kembali, jadi waktu Pilkada tanggal 15 Februari itu ibu kan sakit. Maka pihak petugas TPS yang datang ke sini. Ketika kertas yang mau dicoblos itu diperlihatkan ke ibu itu ngga ditutup. Jadi semua petugas termasuk saksi bisa lihat ibu coblos nomer tengah. Kan mestinya ngga terbuka begitu, ditutup kayak kita-kita kalo coblos di TPS ada penghalangnya. Nah ibu itu terbuka aja nyoblosnya.

Bu Neneng melanjutkan lagi ceritanya, “Kami sekeluarga memilih Ahok bu.. Termasuk (almh​) ibu saya. Walaupun kami orang bodoh, tapi kami merasakan apa yg sudah dikerjakan pak Ahok. Anak saya satu-satunya dapat KJP, kami juga dapat KJS untuk suami ketika sakit dan sekarang udah meninggal,” Bu Neneng juga menambahkan kalo dia terbantu sekali ketika anak satu-satunya ini harus operasi jantung, dan seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.

Renny bertanya kepada keluarga Ibu Hindun, Selepas peristiwa ini, apakah akan mengubah pilihannya? Atau menjadi takut untuk memilih Pak Ahok? Serempak mereka berkata: Tidak! Kami TETAP AHOK! Dan akan tetap coblos pak Ahok!

Mendengar jawaban keluarga Ibu Hindun jujur saya merinding sekaligus terharu banget. Seperti tulisan Renny di statusnya kemarin bahwa apa yang selama ini kami lakukan belum seberapa bila dibandingkan dengan apa yang sudah dihadapi dan dialami oleh keluarga Ibu Hindun. Mereka betul-betul menginspirasi saya soal ketulusan dan keikhlasan memilih pemimpin dan pelayannya.

Nggak terasa 3 jam kami mengobrol dengan keluarga Ibu Hindun. Entahlah, kami kok merasa sangat dekat dengan keluarga Ibu Hindun ini. Saya merasakan banget ketulusan dan keikhlasan mereka sehingga membuat saya dan Renny betah di rumahnya.

Sebenarnya saya mesti menghadiri pengajian jam 7 yang diselenggarakan tak jauh dari rumah ini. Saya dapat info dari Guntur kalo malam itu ada pengajian ibu-ibu yang menghadirkan Taufik Damas sebagai penceramahnya. Tadi sebelum ke Rumah ini pun saya minta Ustadz Riki, salah satu panitia pengajian di Karet ini utk datang melayat bersama kami. Ustadz Riki datang bersama isterinya sebentar untuk melayat karena buru2 harus kembali mempersiapkan acara pengajiannya.

Sementara Renny juga ada kerjaan untuk filmnya. Awalnya kami akan pamit pulang eh sebelum kami pamit tiba-tiba ada tetangga yang bilang ke Bu Neneng kalo Pak Camat akan berkunjung. Pihak keluarga bu Hindun minta kami menemani mereka menerima Pak Camat dan rombongan. Bu Neneng bilang, temani kami ya kak Nong…

Bersambung ya ceritanya…

Nong Darol Mahmada

  • Guest

    HANYA EMPAT ORANG WARGA YANG ikut solatkan almarhumah. Mereka ini jelas2 menolak alm dibawa ke mushala, mereka ini jelas menteror warga yang adalah janda-janda pekerja harian lepas. rakyat kecil. Tapi ketika berita ini viral mereka ketakutan dan ngeles bahwa bukan karena ditolak di mushola tapi karena hujan, krn sudah sore, dan 1001 alasan ngeles lainnya, Sudah jelas mereka inilah yang dinamakan manusia munafik. Naudzubilah min dzalik!