close
IMG_5437

Inilah yang paling saya khawatirkan. Tulisan saya kemarin berjudul ‘Pertanyaan Penting untuk Cagub Jakarta’, dilandasi dengan kekhawatiran kejadian seperti berita di bawah ini akan menyebar kemana-mana. Awalnya memang di Jakarta lalu virus itu akan menjangkiti daerah lainnya.

Yulius Suharta seorang Camat di Kabupaten Bantul, Jogjakarta ditolak sebagian kecil warga di wilayah tersebut. Apa alasan? Apakah karena kinerja Yulius yang kurang baik? Atau karena kapabilitasnya? Atau karena kemampuan orangnya? Bukan. Yulius ditolak warga karena dia beragama Katolik!

Kenapa warga menolak Camat yang berbeda agama? Apalagi kalau bukan tafsir sempit terhadap Surat Al Maidah 51. Memang di tangan para spesies dengkul, tafsir atas ayat tersebut bisa menjadi senjata untuk merampok hak minoritas. Seperti yang kita saksikan sekarang di Bantul.

Dan perampokan, sejatinya adalah perampokan. Bukan hanya hak seorang warga negara yang dirampok, juga pondasi kebangsaan kita sedang diruntuhkan.

Sekarang kita lihat apa reaksi Bupati Bantul terhadap penolakan warga yang mengada-ada itu. Apakah dia akan memindahkan Camat itu ke wilayah lain yang jumlah penduduk muslimnya sedikit? Itu sama artinya pemerintah mengaku kalah dengan desakan para bigot? Jika itu yang dilakukan, Suharsono benar-benar Bupati banci. Dia melanggar sumpah jabatannya sendiri.

Padahal ketika dilantik sebagai Bupati, dia bersumpah untuk setia dengan UUD Republik Indonesia. UUD yang menjamin hak semua warga negara mendapat perlakuan setara. Apapun agama dan sukunya.

Di Lenteng Agung, Jakarta, kejadian serupa juga pernah menimpa Lurah Susan. Lurah cantk beragama kristen itu ditolak kehadirannya oleh sebagian kecil warga mengatasnamakan Islam. Apalagi alasannya kalau bukan memanfaatkan tafsir sempit Al Maidah 51.

Untung saja Pemerintah Jakarta tidak mau menyerah di tangan para bigot. Tapi kini di Bantul, hal yang sama menimpa Yulius Suharta. Sayangnya Bupati disana tampaknya memilih memyerah.

Tafsir sempit atas surat Al Maidah 51 sangat berisiko digunakan oleh mereka yang punya agenda politik untuk meraih kekuasaan atau menjegal lawan politiknya. Rakyat yang lugu diintimidasi dengan tafsir tunggal yang dipaksakan. Puncaknya akan dibenturkan UUD kita dengan kaidah Al Quran versi mereka. Ini sangat merepotkan.

Rakyat seolah didorong untuk memilih satu diantara dua : memiih ikut aturan negara atau ikut Al Quran? Padahal Al Quran menurut penafsiran mereka saja. Dengan kata lain : memilih kebangsaanya atau memilih agamanya.

Jika kita nanti berada pada tahap itu, artinya Indonesia sudah memasuki alam kegelapan. Negeri kita memasuki alam yang memang dirindukan para penganut Khilafah dan pemerintahan agama. Pintu masuknya dengan memanfaatkan tafsir sempit Al Maidah 51. Sebab dengan tafsiran sempit, Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai legitimasi pemerintahan agama. Legitimasi untuk mewujudkan mimpi khilafah!

Jika kita mencintai bangsa ini, sudah saatnya kita berkata, “Jangan bohongi kami pakai Al Maidah 51.”

Jika kita diam pasrah dicekoki pikiran para bigot, sama artinya kita sedang meruntuhkan pondasi kebangsaan kita sendiri. Sama artinya kita ikut berpartisipasi men-Suriah-kan Indonesia. Sama maknanya seperti kita sedang menggali lubang kubur untuk anak-cucu kita sendiri.

Kita yakin Al Quran bertujuan membawa kemaslahatan untuk semua, sebagaimana Islam adalah rahmatan lil alamin. Dan kita tidak ikhlas, jika ada ayat dalam Quran digunakan orang picik sebagai dalih untuk merampok hak orang lain! Apalagi digunakan sebagai pintu masuk menghancurkan Indonesia.

Kita susah berdialog dengan para spesies dengkul itu. Keuntungan Indonesia mempunyai rakyat yang seperti itu, cuma satu : jika diekspor harga otaknya masih mahal. Jauh lebih mahal dari otak Einstein sekalipun. Sebab kondisinya masih fresh. Jangan dipakai.

Eko Kuntadhi

Tags : Jangan Mau Dibohongi