close
HeadlineTulisan

Pelajar, Mahasiswa Dan Pemuda Antar Agama Sepakat Lawan Radikalisme

IMG_5430

Jakarta- Perhimpuna Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) bersama Student Peace Institute (SPI) mengadakan diskusi kebangsaan pada Senin 9 Januari 2017 bertempat di gedung Margasiswa I PP PMKRI Jl.Sam Ratulangi Menteng Jakarta Pusat. Diskusi tersebut mengusung tema ‘Mengawal Kebhinekaan Dari Ancaman Radikalisme’ .

Diskusi tersebut menghadirkan lima orang pembicara, yaitu Ketua umum PP PMKRI Angelius Wake Kako, Direktur eksekutif SPI Doddy Abdallah, Koordinator Rumah Pelita Slamet Abidin, Komisioner KOMNAS HAM Natalius Pigai dan pakar perbandingan agama Dr. Media Zainun Bahri.

Pembicara pertama Angelius memparkan bahwa kehidupan majemuk itu ibaratkan rujak, di dalam rujak terdapat berbagai macam buah yang tercampur di dalamnya dan bahkan ada satu jenis buah yang mendominasi, akan tetapi hal itu tidak sampai merubah substansi dari rujak tersebut, ‘walapun yang dominan pepaya, itu tetap rujak bukan pepaya’ ujar pemuda asal Ende NTT itu, jadi menurut Angelo Indonesia itu walapun memang ada yang mayoritas tetap saja ini Indonesia, kehidupan kemajemukan di Indonesia harus di jaga dan di pertahankan.

Setelah Angelo, pemaparan kedua dianjutkan oleh Doddy Abdallah. Dalam paparanya Doddy lebih menekankan tentang begitu membahayakanya radikalisme bagi masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, ‘Radikalisme ini layaknya virus yang mematikan, jika tidak dibasmi sampai ke akarnya maka ia akan menggerogot lebih dalam kehudupan multi culture dan multi religion di Indonesia”. menurut Doddy, yang menjadi sasaran empuk dari virus radikalisme adalah kaum muda, khususnya pelajar, karena mental dan pikiranya yang masih bisa dikatakan gampang dipengaruhi.

Berbeda dengan dua pembicara awal, Slamet Abidin dalam paparanya lebih menwarkan solusi kongkrit dalam melawan radikalsme, yaitu dengan membubarkan organisasi-organisai radikal seperti FPI. Namun menurut Komisiner KOMNAS HAM Natalius Pigai, bukan hanya FPI Saja yang harus dilawan tapi organisasi-organisasi lain yang berhaluan radikal juga harus secepatnya di basmi.

Pembicara terakhir Dr.Media Zainun bahri yang berasal dari kalangan akademisi lebih menekankan pada aspek studi, menurutnya orang bisa toleran dengan orang lain apabila mempelajari ajaran agama orang lain, sehingga bisa saling memahami dan saling menghormati.

Diskusi tersebut berlangsung dari pukul 15.00 sampai 17.30 yang dihadiri kurang lebih 300 tamu undangan.

Tags : Lawan Radikalisme